Pengembangan AI Picu Beban Kerja Karyawan Hingga 90 Jam Per Minggu

Share

Pengembangan kecerdasan buatan (AI) justru memperberat beban kerja para pegawai di sejumlah perusahaan teknologi hingga mencapai lebih dari 90 jam per minggu, dilansir dari Detik iNET pada Kamis (13/8/2026). Kondisi jam kerja ekstrem tersebut dialami oleh para pekerja di OpenAI dan Anthropic, terutama ketika perusahaan sedang memasuki fase pengembangan besar-besaran. Seorang mantan karyawan OpenAI mengungkapkan bahwa dirinya harus bekerja setidaknya 70 jam seminggu sebelum akhirnya memutuskan pindah ke startup AI lain, di mana jam kerjanya kini menjadi 50 hingga 60 jam per minggu.

"Anda datang pada hari Sabtu atau Minggu hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda atau memastikan tidak ada yang bermasalah," kata mantan karyawan OpenAI.

Mantan pegawai tersebut menambahkan bahwa OpenAI tidak pernah menerapkan sistem empat hari kerja, melainkan diwarnai rapat krisis rutin, lembur akhir pekan, dan evaluasi kinerja ketat yang berisiko pemutusan hubungan kerja secara mendadak. Temuan ini bertolak belakang dengan klaim industri yang menyebut AI dapat meningkatkan efisiensi, termasuk dorongan eksperimen empat hari kerja dari OpenAI serta ramalan Google beberapa tahun lalu.

CEO OpenAI Sam Altman menyatakan bahwa efisiensi teknologi tidak akan serta-merta mewujudkan pemangkasan hari kerja bagi para staf di era pasca-kecerdasan super. "Saya rasa kita semua akan jauh lebih sibuk daripada yang kita duga di era pasca-kecerdasan super," kata Altman.

Altman menilai dinamika kerja tersebut akan tetap diwarnai dengan tingkat kesibukan yang tinggi bagi semua pihak. "Kita masih akan mengeluh tentang hal itu, tetapi diam-diam kita akan merasa bahagia," imbuh Altman. Peneliti dari University of California, Berkeley menjelaskan bahwa penggunaan AI menambah beban baru karena pekerja harus meluangkan waktu ekstra untuk memverifikasi akurasi hasil kerja sistem otomatis tersebut.

Pakar inovasi dari Massachusetts Institute of Technology Neil Thompson mengonfirmasi bahwa perusahaan cenderung memberikan tugas baru serta pengawasan yang lebih ketat dibanding memberikan waktu luang saat efisiensi meningkat.

"Orang-orang beranggapan bahwa pengurangan jam kerja sebesar 20% berarti hari kerja menjadi empat hari seminggu. Namun, tugas baru akan muncul," jelas Thompson.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author