Pengamat Keamanan Siber Ingatkan Risiko Kebocoran Data Tren Twibbon MPLS

Share

Tren unggahan twibbon siswa baru di media sosial selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menyisakan risiko terhadap perlindungan data pribadi jika tidak dipublikasikan secara bijak. Publikasi informasi identitas tersebut berpotensi diakses dan dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk kejahatan siber.

Lembaga riset keamanan siber CISSReC menilai kebiasaan membagikan identitas digital ini perlu disikapi dengan lebih waspada. Risiko kebocoran data meningkat saat foto wajah, nama lengkap, domisili, hingga asal sekolah dipajang secara terbuka di internet.

"Dari sisi kebersamaan dan kebanggaan sebagai bagian dari sekolah baru, tren tersebut tentu memiliki nilai positif. Namun, dari sudut pandang keamanan siber dan perlindungan data pribadi, kebiasaan tersebut juga perlu disikapi secara lebih bijaksana," kata Pratama saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Keterbukaan informasi ini memudahkan pelaku kejahatan menyusun profil digital korban tanpa harus melakukan peretasan akun. Metode pengumpulan informasi publik ini dikenal sebagai teknik Open Source Intelligence atau OSINT.

"Teknik ini memungkinkan berbagai informasi yang tersebar di internet dikumpulkan, dikorelasikan, dan disusun menjadi profil digital seseorang tanpa harus meretas akun miliknya. Semakin banyak data yang dibagikan secara sukarela, semakin mudah pula identitas seseorang dipetakan," jelasnya.

Data yang telah dipetakan kemudian dapat disalahgunakan untuk rekayasa sosial atau social engineering. Penipu dapat menyamar sebagai guru, panitia sekolah, atau teman guna mempengaruhi korban.

Penyalahgunaan lain yang mengancam siswa mencakup pembuatan identitas palsu menggunakan kecerdasan artifisial, perundungan digital, pelecehan daring, hingga penguntitan lokasi aktivitas sehari-hari.

"Hal tersebut sangat berbahaya terutama bagi anak dan remaja yang umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengenali berbagai modus manipulasi digital," katanya.

Guna mengantisipasi ancaman ini, pihak sekolah dan orang tua didorong untuk memberikan edukasi literasi digital secara dini mengenai pentingnya menjaga jejak digital. Penggunaan nama pada twibbon juga sebaiknya dibatasi hanya menggunakan nama panggilan.

"Twibbon MPLS bukan sesuatu yang harus dihindari. Yang perlu dibangun adalah budaya literasi digital yang lebih baik sehingga semangat memperkenalkan diri tetap bisa dilakukan tanpa mengorbankan keamanan data pribadi," katanya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author