Pendiri Lekom Maras Burhanuddin Bur Maras Meninggal Dunia
Tokoh industri minyak dan gas nasional sekaligus pendiri PT Lekom Maras, Burhanuddin 'Bur' Maras, meninggal dunia di Jakarta pada Sabtu (18/7/2026) dalam usia 90 tahun, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Mantan anggota DPR RI periode 2004–2009 dari Partai Demokrat tersebut meninggalkan seorang istri, Pam R. Quinn, dan tiga orang anak. Kepemimpinan bisnis keluarga kini diteruskan oleh anaknya, Gregory Q. Maras, sebagai Presiden Komisaris PT Ratu Prabu Energi Tbk dan Direktur PT Lekom Maras.
Pihak manajemen PT Lekom Maras memberikan keterangan resmi terkait rekam jejak almarhum di berbagai sektor industri dan pemerintahan pada Senin (3/8/2026).
"Perjalanan hidupnya mencatatkan rekam jejak yang panjang, membentang dari sektor migas di Amerika Serikat, pengelolaan energi nasional, hingga kiprahnya di panggung politik dan dunia bisnis properti Tanah Air," tulis PT Lekom Maras dalam keterangan resmi.
Lahir di Sumatera Selatan pada 14 Juli 1936, Bur Maras menempuh pendidikan di Methodist English School Medan sebelum meraih beasiswa ke Amerika Serikat pada 1959. Ia menyelesaikan gelar Bachelor of Science Teknik Perminyakan di New Mexico Institute of Mining and Technology pada 1965, lalu bekerja di Cardinal Petroleum, Standard Oil Company, Bechtel, dan Williams Brothers Engineering Company.
Setelah pulang ke Indonesia pada awal 1970-an, ia menjadi konsultan Pertamina dan mendirikan PT Lekom Maras pada 1975. Perusahaan tersebut berkembang ke sektor konstruksi, perhotelan, hingga properti melalui PT Ratu Prabu Energi Tbk yang membangun kompleks perkantoran Ratu Prabu di Jakarta Selatan.
"Langkah ini menjadi fondasi penting yang bermuara pada pendirian perusahaan jasa minyak dan gas, PT Lekom Maras, pada tahun 1975," tulis PT Lekom Maras.
Saat bertugas di Komisi DPR RI yang membidangi energi dan lingkungan, Bur Maras aktif membenahi sistem cost recovery, mengawal investasi infrastruktur energi, serta mendorong reformasi pendidikan dan tata kelola pemerintahan.
"Hingga masa-masa akhir hidupnya, Bur Maras tidak pernah berhenti menyumbangkan pemikiran bagi kemajuan industri. Di usia senjanya, ia tetap aktif menggagas berbagai rencana proyek infrastruktur berskala besar, termasuk studi pengembangan jaringan kereta ringan (LRT) swasta di Jakarta serta terminal penyimpanan LPG di Jawa Timur. Ia juga senantiasa memegang keyakinan teguh bahwa potensi cadangan minyak dan gas Indonesia masih sangat besar dan membutuhkan kegiatan eksplorasi yang berkelanjutan," tulis PT Lekom Maras.
Pihak perusahaan menutup pernyataan dengan menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan warisan kepemimpinan almarhum sepanjang hidupnya.
"Burhanuddin 'Bur' Maras merupakan teladan tentang integritas, kerja keras, dan visi yang tajam. Dedikasi yang telah diberikan mulai dari ladang minyak internasional, pengembangan industri migas nasional, hingga ruang-ruang kebijakan publik menjadi warisan berharga yang akan terus menginspirasi generasi penerus di Indonesia," tutup PT Lekom Maras.