Microsoft Ungkap 95 Persen Pemimpin Bisnis Indonesia Rencana Pakai Agen AI
Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI di Indonesia terus mengalami peningkatan yang signifikan seiring perkembangan teknologi digital. Dilansir dari Detik iNET, laporan Work Trend Index 2025 yang dirilis Microsoft dan LinkedIn mencatat bahwa 95 persen pemimpin bisnis di Indonesia berencana mengintegrasikan agen AI untuk mendukung tim mereka dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Riset yang sama menunjukkan sebanyak 59 persen perusahaan di Indonesia telah memanfaatkan agen AI untuk mengotomatiskan berbagai pekerjaan. Angka ini tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata adopsi di kawasan Asia-Pasifik yang berada di level 53 persen.
Meski antusiasme di ruang rapat direksi sangat tinggi, terdapat paradoks besar yang membayangi fenomena ini. Cisco AI Readiness Index 2025 mengungkapkan hanya sekitar 23 persen perusahaan di Indonesia yang benar-benar siap memanfaatkan teknologi AI secara efektif, walaupun angka ini masih di atas rata-rata global yang hanya 13 persen.
Situasi tersebut menandakan bahwa sekitar 77 persen perusahaan di dalam negeri mengadopsi teknologi ini tanpa fondasi yang memadai. Permasalahan mendasar biasanya mencakup tata kelola data yang belum rapi, strategi yang tidak jelas, hingga ketidaksiapan tim kerja, sehingga membuat investasi berujung sia-sia.
Founder dan CEO Majapahit Teknologi, Paradita Umbara yang akrab disapa Didit, menjelaskan bahwa kesenjangan ini terjadi karena banyak pelaku usaha memulai adopsi dari teknologi, bukan dari masalah bisnis yang dihadapi.
"Banyak yang datang dengan pertanyaan AI apa yang harus dibeli. Padahal pertanyaan yang benar adalah masalah apa yang ingin diselesaikan. Tanpa itu, AI secanggih apa pun tidak akan memberi hasil," ujar Didit dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/2026).
Kondisi ketidaksiapan tersebut menjadi hambatan terbesar yang membuat banyak proyek teknologi mandek sebelum sempat berjalan. Didit menyarankan agar para pelaku usaha tidak langsung terfokus pada kecanggihan teknologi, melainkan memetakan satu atau dua masalah operasional yang paling membebani efisiensi bisnis.
Beberapa titik awal yang dinilai telah terbukti berdampak positif bagi operasional bisnis di Indonesia meliputi otomatisasi layanan pelanggan lewat chatbot, otomatisasi pemrosesan dokumen seperti invoice dan formulir, serta pemanfaatan analitik data untuk mendukung pengambilan keputusan.
"Mulai dari yang dampaknya jelas dan bisa diukur. Jangan langsung membayangkan AI yang rumit. Satu masalah yang selesai dengan baik jauh lebih berharga daripada sepuluh ide yang tidak pernah terwujud," katanya.
Guna memastikan investasi tidak terbuang sia-sia, Didit menekankan pentingnya perusahaan untuk memastikan lima faktor utama sejak awal perencanaan. Faktor pertama adalah kejelasan masalah yang ingin diselesaikan beserta tolok ukur keberhasilannya yang pasti.
Faktor kedua menyangkut kesiapan data internal perusahaan yang harus rapi dan mudah diakses, mengingat kinerja sistem kecerdasan buatan bergantung penuh pada kualitas data. Ketiga, pemilihan use case harus didasarkan pada dampak nyata bagi bisnis, bukan sekadar mengikuti tren pasar.
Selanjutnya, aspek anggaran perlu disiapkan secara bertahap yang dimulai dari proyek percontohan berskala kecil untuk membuktikan nilai investasinya. Faktor terakhir adalah penyiapan dan pelibatan tim kerja karena adopsi teknologi baru ini menuntut perubahan budaya serta cara kerja.
Estimasi Biaya dan Pendekatan Strategis
Persoalan mengenai nilai investasi sering kali menjadi faktor utama yang membuat pelaku usaha ragu untuk melangkah. Di pasar Indonesia, proyek AI berskala pilot untuk satu use case spesifik umumnya membutuhkan biaya di kisaran puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Sementara itu, implementasi sistem enterprise yang terintegrasi langsung dengan sistem inti perusahaan dapat mencapai ratusan juta hingga lebih dari satu miliar rupiah. Nilai tersebut sangat bergantung pada tingkat kompleksitas serta kustomisasi yang dibutuhkan.
Didit menilai biaya tersebut sebaiknya dipandang sebagai investasi yang dilakukan secara bertahap, bukan sebagai biaya tunggal yang dikeluarkan sekaligus di awal.
"Tidak perlu langsung besar. Justru lebih aman mulai dari proyek kecil untuk membuktikan nilainya, baru diperbesar setelah terbukti berhasil. Dengan begitu risikonya terukur," paparnya.
Penetapan tujuan yang terukur sejak awal menjadi kunci utama untuk memastikan hasil yang optimal tanpa harus terburu-buru melakukan implementasi skala besar. Proyek percontohan kecil memberikan ruang bagi perusahaan untuk menguji efektivitas solusi sebelum mengalokasikan anggaran yang lebih besar.
Di samping aspek teknis, faktor sumber daya manusia juga memegang peranan krusial dalam menentukan keberhasilan implementasi teknologi di lingkungan kerja.
"Banyak proyek AI yang secara teknis berhasil, tapi gagal karena timnya tidak siap atau tidak dilibatkan. Teknologi dan kesiapan timnya harus berjalan beriringan," kata Didit.
Kesenjangan kesiapan ini dapat dijembatani melalui peran konsultan eksternal pada tahap awal. Konsultan berfungsi membantu memetakan masalah, menilai kesiapan data, memilih use case yang berdampak, menyusun roadmap bertahap, hingga memastikan sistem baru menyatu dengan proses bisnis berjalan.
Majapahit Teknologi yang didirikan Didit sejak 2018 di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, merupakan salah satu penyedia layanan konsultan, AI integrator, serta jasa pembuatan aplikasi custom berbasis mobile dan web. Perusahaan ini melayani berbagai klien mulai dari sektor UMKM, perusahaan swasta, hingga instansi pemerintah.
Melihat tren adopsi yang diproyeksikan terus tumbuh, korporasi yang memulai dengan perencanaan matang dinilai akan memiliki keunggulan kompetitif yang jauh lebih kuat di pasar.
"Mulai dari masalah, pastikan datanya siap, lalu pilih solusi yang tepat. Konsultasi di awal jauh lebih murah daripada memperbaiki proyek yang sudah gagal," tutupnya.