Pemerintah AS Dekati Oposisi Israel Karena Khawatir Pengaruh Faksi Garis Keras
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mengkhawatirkan semakin besarnya pengaruh kelompok garis keras dalam koalisi pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kondisi ini memicu Washington untuk mulai menjalin kontak dengan pemimpin dan tokoh oposisi di Tel Aviv.
Laporan media lokal Israel, Channel 12, seperti dikutip dari Detikcom, menyebutkan bahwa para pejabat dalam pemerintahan Trump mempercayai adanya kemungkinan besar terjadinya perubahan pemerintahan di Israel. Hal tersebut mendorong adanya upaya informal untuk menjangkau para pemimpin oposisi.
Informasi ini mengemuka saat Washington dan Tel Aviv terlibat ketegangan baru-baru ini. Ketegangan tersebut terkait dengan kesepakatan damai dengan Iran serta operasi militer Israel di Lebanon yang diklaim menargetkan kelompok Hizbullah.
Menurut laporan Channel 12, beberapa pejabat di Washington merasa khawatir terhadap pengaruh faksi garis keras dalam koalisi Netanyahu. Oleh karena itu, mereka berupaya membangun hubungan dengan calon pemimpin politik Israel di masa depan.
Tokoh-tokoh oposisi yang telah dihubungi oleh pihak Amerika Serikat mencakup mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett dan pemimpin oposisi Gadi Eisenkot.
Koalisi pemerintahan Netanyahu yang berkuasa sejak Desember 2022 terdiri atas lima partai politik. Partai-partai tersebut adalah Likud, Shas, Otzma Yehudit, Partai Zionis Religius, dan Partai Harapan Baru. Koalisi ini secara luas disebut sebagai pemerintahan paling sayap kanan dalam sejarah Israel.
Partai Likud yang berdiri pada tahun 1973 merupakan partai politik terbesar sekaligus menjadi pondasi bagi politik sayap kanan di Israel. Likud menjadi tulang punggung utama dari koalisi pemerintahan saat ini.
Likud dipimpin langsung oleh Netanyahu, yang tercatat sebagai Perdana Menteri Israel dengan masa jabatan paling lama. Secara historis, Likud skeptis terhadap kemungkinan perdamaian dengan Palestina dan mendukung proyek permukiman Yahudi di wilayah Palestina.
Sementara itu, Shas merupakan partai politik religius Haredi di Israel yang berdiri sejak tahun 1984. Haredi adalah aliran Yudaisme ultra-Ortodoks yang paling konservatif. Shas menjadi partai terbesar ketiga dalam Knesset sejak tahun 2024 dan selalu tergabung dalam koalisi pemerintahan.
Faksi Ultranasionalis dan Sayap Kanan Ekstrem
Faksi berikutnya adalah Otzma Yehudit yang berarti Kekuatan Yahudi. Partai politik ini beraliran sayap kanan, ultranasionalis, dan anti-Arab. Partai ini dipimpin oleh Itamar Ben-Gvir yang dikenal provokatif dan kontroversial.
Ben-Gvir, seperti dilansir BBC, pernah dihukum dalam kasus penghasutan rasisme dan mendukung organisasi teroris. Ia kini menjabat sebagai Menteri Keamanan Nasional yang bertanggung jawab atas Kepolisian Israel dalam kabinet Netanyahu.
Selain itu, terdapat Partai Zionis Religius yang merupakan partai sayap kanan ekstrem, ultranasionalis, penegak supremasi Yahudi, dan Zionis religius. Pemimpin partai ini adalah Bezalel Smotrich yang dikenal sebagai pendukung kuat perluasan permukiman Yahudi di wilayah Palestina.
Smotrich secara terang-terangan menyatakan ingin melihat Israel mencaplok Tepi Barat. Ia kini menduduki posisi sebagai Menteri Keuangan dalam kabinet Netanyahu.
Seperti dilansir BBC, Smotrich juga mengawasi Administrasi Sipil yang menyetujui pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat. Lembaga ini mengendalikan aspek-aspek penting kehidupan warga Palestina di wilayah tersebut.
Faksi terakhir dalam koalisi adalah Partai Harapan Baru yang beraliran sayap kanan-tengah dan nasional-liberal. Partai ini dipimpin oleh Gideon Sa'ar yang pernah menjadi anggota parlemen Israel mewakili Likud. Sa'ar kini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dalam kabinet Netanyahu.