FIFGROUP Catat Pembiayaan Motor Listrik Honda Melonjak 156 Persen

Share

PT Federal International Finance atau FIFGROUP mencatat lonjakan pembiayaan sepeda motor listrik Honda sebesar 156,10 persen hingga Juni 2026 diperkirakan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak.

Nilai pembiayaan kendaraan listrik roda dua tersebut mencapai Rp6,29 miliar pada semester I-2026, naik signifikan dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp2,45 miliar. Lonjakan ini terjadi di tengah kondisi pasar motor listrik nasional yang dilaporkan PT Astra Honda Motor atau AHM masih tumbuh stagnan di bawah satu persen dari total pasar otomotif roda dua.

Co-Project Director GIIAS Astra Financial sekaligus Chief Marketing Officer FIFGROUP Daniel Hartono menjelaskan pertumbuhan ini juga diikuti oleh kenaikan jumlah pemesanan unit motor listrik dari 100 unit menjadi 265 unit.

"Kalau tren pembiayaan EV, di FIFGROUP pembiayaan EV-nya di Honda memang tahun ini cukup meningkat hampir dua kali lipat. Sampai posisi Juni 2026 year to date, pembiayaannya mencapai Rp6,3 miar. Jadi memang cukup baik pertumbuhannya dibandingkan dengan tahun lalu," ujar Daniel Hartono, Co-Project Director GIIAS Astra Financial sekaligus Chief Marketing Officer FIFGROUP.

Daniel Hartono menambahkan pihaknya memanfaatkan momentum perhelatan GAIKINDO Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2026 pada Rabu, 22 Juli 2026, untuk menawarkan program potongan tenor pembiayaan hingga lima kali.

"Untuk motor listrik promonya ada dua. Satu bisa eligible di potongan tenor sampai lima kali dengan manfaat hingga Rp10,2 juta. Khusus EV di GIIAS juga ada tambahan voucher potongan angsuran sebesar Rp1,2 juta, yaitu Rp100 ribu selama 12 voucher," kata Daniel Hartono, Co-Project Director GIIAS Astra Financial sekaligus Chief Marketing Officer FIFGROUP.

Peningkatan minat terhadap kendaraan listrik ini sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan yang mencatat penyaluran pembiayaan kendaraan listrik nasional mencapai Rp23,94 triliun hingga Mei 2026.

"Kenaikan harga BBM berpotensi memengaruhi kemampuan bayar sebagian debitur dan kualitas pembiayaan multifinance. Di sisi lain, kondisi ini juga dapat mendorong minat terhadap kendaraan listrik," ucap Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK.

Meskipun pembiayaan tumbuh, Executive Vice President PT AHM Thomas Wijaya mengungkapkan bahwa adopsi motor listrik secara keseluruhan di Indonesia pada semester pertama masih belum maksimal dan cenderung datar.

"Ya semester satu kalau kita lihat kurang lebih flat (datar) dibandingkan dengan tahun lalu, kurang lebih," kata Thomas Wijaya, Executive Vice President PT AHM.

Thomas Wijaya menjelaskan PT AHM tetap berkomitmen memperkuat ekosistem dengan menyiapkan layanan purnajual, suku cadang, serta pilihan teknologi pengisian daya langsung maupun tukar baterai.

"Kami akan terus melihat bagaimana penerimaan pasar, penerimaan konsumen, baik tas performa, infrastruktur, peace of mind-nya. Termasuk juga tentu harga jual dan lainnya," kata Thomas Wijaya, Executive Vice President PT AHM.

Pihak produsen saat ini membiarkan pasar berjalan secara opsional sesuai kesiapan infrastruktur dan preferensi konsumen demi menjamin kenyamanan pengguna.

"Produknya sudah ada, sudah siap. Tinggal sekarang bagaimana masyarakat dan konsumen menjadikan motor listrik itu sebagai salah satu opsi pilihan mereka untuk mobilitas," ungkap Thomas Wijaya, Executive Vice President PT AHM.

Lebih lanjut, Thomas Wijaya menyatakan kontribusi penjualan motor listrik Honda saat ini masih berada di bawah angka satu persen dibandingkan dengan keseluruhan model sepeda motor konvensional.

"Iya kurang lebih (di bawah satu persen). Kembali kan memang itu banyak faktor dan sebagainya, tergantung lagi penerimaan konsumen, penerimaan masyarakat dengan berbagai pertimbangan dari mereka," tegas Thomas Wijaya, Executive Vice President PT AHM.

Tantangan penerimaan pasar ini juga disoroti oleh Direktur Marketing AHM Octavianus Dwi terkait target jangka panjang perusahaan untuk menjual satu juta unit motor listrik pada tahun 2030.

"Ya kita realistis juga.Karena ambisi is One Thing,tapi kan ketika realisasi tuh ngeliat dari market, kesiapan pasar juga kita akan sesuaikan pasti," ujar Octavianus Dwi, Direktur Marketing AHM.

Guna mencapai target satu juta unit tersebut, AHM berencana meluncurkan total 7 model motor listrik di Indonesia, di mana saat ini baru 4 model yang diperkenalkan kepada publik.

"Mungkin itu,nanti dilihat aja. Jadi begini, sebenarnya kalau sudut pandangnya harusnya tetap dari konsumen. Konsumen itu akan meng-accept.

Dia kan pasti ada harga yang harus dia bayar, sesuai nggak sih dengan benefitnya dan lain sebagainya. Nah sebenarnya di kami (Honda), di pemerintah itu kan, bisa mengintervensi, ya perlu semua stakeholder lah harusnya. Ya tapi memang pada akhirnya kan pilihannya ada di konsumen," tambah Octavianus Dwi, Direktur Marketing AHM.

Octavianus Dwi menambahkan bahwa saat ini para pemangku kepentingan perlu bersama-sama memahami kebutuhan pasar karena tidak semua kebiasaan konsumen di berbagai area menuntut peralihan ke kendaraan listrik secara instan.

"Nah saat-saat ini masih banyak hal ya kita perlu sama-sama bersama konsumen untuk understand. Di situasi marketnya EV ini, apa sih yang mesti dicari? Yang gap-nya masih ada ya.

Realitinya bahwa ternyata nggak semua habit konsumen atau semua area itu meminta itu. Dan tercermin dari semua pemain lah, bukan hanya kita (Honda). Akhirnya kan sistem yang disediakan opsional.

Ada yang swap, ada yang direct charge. Ada yang kombinasi lah. Biarkan itu semua berjalan gitu," Octavianus Dwi, Direktur Marketing AHM menambahkan.

Hambatan pertumbuhan pasar ini tercermin dari total serapan pasar motor listrik nasional yang masih tertahan di kisaran satu persen dari total penjualan sepeda motor.

"Artinya kan masih punya gap-lah dengan ekspektasinya, market seperti apa. Itu kita sama-sama perjalanan ini ya kita bersama. Artinya AHM pun kan tidak meninggalkan (telah memperkenalkan 4 produk motor listrik dan akan menyusul 3 motor listrik lainnya), dan kita tetap akan ikutin prosesnya," tambah Octavianus Dwi, Direktur Marketing AHM.

Mengenai wacana penerapan sistem konversi motor listrik oleh pemerintah yang dinilai sebagian pihak bisa menghambat pasar, AHM menilai hal tersebut belum memberikan dampak langsung secara teknis.

"Karena itu belum dijalankan ya kita belum tahu. Karena kan balik lagi ya itu kan masih banyak hal kan perlu didetailkan teknisnya.Dan itu kan belum, sehingga bagi market sebenarnya belum ada perbedaan apa-apa juga. Jadi belum sampai ke impact-nya," ucap Octavianus Dwi, Direktur Marketing AHM.

Untuk menghadapi realita pasar ini, AHM menilai penyesuaian strategi dari seluruh produsen otomotif sangat diperlukan guna menyelaraskan target dengan daya serap konsumen.

"Ya akhirnya harus semua pihak melihat dan punya PR, kalau memang mau ke sana ya kita mesti bareng-bareng ngeliat realitanya kayak apa. Kalau saya kasih perumpamaan ya, bendera kan sudah ditancepin di atas gunung, tapi pada akhirnya kan kecepatan mencapai ke situnya kan berbeda-beda. Mungkin diperlukan adjustment," pungkas Octavianus Dwi, Direktur Marketing AHM.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author