Pembalap MotoGP Kompak Desak Perubahan Garis Start Sirkuit Barcelona
Sejumlah pembalap MotoGP mendesak perubahan tata letak garis start di Sirkuit Barcelona menyusul rentetan kecelakaan hebat yang kembali terjadi di Tikungan 1 pada balapan MotoGP Catalunya 2026 yang berlangsung hari Minggu kemarin.
Titik pengereman yang panjang setelah lintasan lurus membuat para pembalap tiba di tikungan pertama dengan kecepatan yang terlalu tinggi, sehingga memicu risiko tabrakan massal saat posisi awal balapan yang padat.
Insiden besar pada musim 2026 melibatkan Johann Zarco, Francesco Bagnaia, dan Luca Marini saat start ulang, menambah daftar kecelakaan serupa yang sebelumnya menimpa Takaaki Nakagami pada 2023 dan Enea Bastianini pada 2024.
Pembalap disarankan untuk memindahkan grid start menjadi lebih dekat dengan tikungan pertama agar laju motor melambat sebelum memasuki area pengereman krusial tersebut.
Pemenang balapan, Fabio Di Giannantonio, mengusulkan gagasan teknis tersebut setelah menilai jarak start yang ada saat ini terlalu jauh dari tikungan pertama.
"Dengan start yang begitu jauh dari tikungan pertama, kami sampai di sana dengan kecepatan tinggi, tetapi bukan kecepatan yang biasa kami capai pada lap normal," kata Fabio Di Giannantonio.
Pembalap yang akrab disapa Diggia ini menambahkan bahwa situasi tersebut menyulitkan pembalap untuk menentukan titik pengereman yang tepat, sehingga kekeliruan kecil dapat berdampak fatal.
"Jadi kami tidak benar-benar tahu titik pengereman yang sempurna untuk tikungan pertama. Jadi kesalahan kecil bisa menjadi kesalahan besar dan menyebabkan bencana besar." lanjut Fabio Di Giannantonio.
Menurutnya, solusi terbaik yang akan disepakati oleh seluruh pembalap adalah memajukan posisi start sedekat mungkin dengan tikungan pertama agar rombongan dapat melintas dengan lebih tertata.
"Hal yang sempurna, saya pikir setiap pembalap akan setuju dengan ini, adalah memulai sedekat mungkin dengan tikungan pertama. Lalu kita bisa masuk dan melewatinya, dan setiap orang bisa mendapatkan tempatnya di ‘ular’ besar para pengendara." tambah Fabio Di Giannantonio.
Diggia juga menyoroti masalah turbulensi aerodinamika yang terjadi akibat pergerakan motor yang rapat dalam kecepatan tinggi di gigi kelima.
"Tentu saja, tiba di sana dengan gigi kelima dengan kecepatan tinggi, dengan banyak pergerakan aerodinamis, banyak turbulensi, itu juga merupakan masalah besar saat ini." ungkap Fabio Di Giannantonio.
Efek hilangnya downforce di zona pengereman massal tersebut diakui sangat sulit dikelola karena hanya dialami sebanyak dua kali sepanjang akhir pekan balapan.
"Jadi, semua hal itu hanya Anda alami dua kali dalam satu akhir pekan, Sprint Race dan Grand Prix. Dan sangat, sangat sulit untuk bersikap tepat dan mengelolanya." terang Fabio Di Giannantonio.
Usulan pemindahan grid start ini juga mendapatkan dukungan penuh dari pembalap lain, Joan Mir, yang menyoroti risiko pengereman 20 motor secara bersamaan dari kecepatan 300 km/jam.
"Saya sepenuhnya setuju dengan Diggia, karena di tikungan pertama kita sudah mencapai gigi kelima. Titik pengeremannya sangat panjang. Ada 20 motor yang berhenti di sana dari kecepatan 300 km/jam," ungkap Joan Mir.
Mir menilai ruang kesalahan bagi para pembalap sangat sempit sehingga memajukan grid start menjadi langkah logis demi keselamatan bersama.
"Tentu saja, ruang untuk kesalahan sangat sempit. Dan saya pikir, ya, mungkin solusi yang baik adalah menggeser grid sedikit ke depan, untuk mencapai tikungan pertama dengan kecepatan yang sedikit lebih rendah." lanjut Joan Mir.
Persoalan keamanan sirkuit ini rencananya akan dibawa ke forum diskusi para pembalap demi meminimalkan risiko kecelakaan di masa depan.
"Saya yakin kita akan membicarakannya. Kita akan mencoba mencari keselamatan semua orang. Tetapi pada akhirnya, ini adalah risiko di trek ini. Jadi semoga kita bisa menyelesaikan ini untuk masa depan." pungkas Joan Mir.