Pemain Timnas Uruguay Memberontak Terhadap Pelatih Marcelo Bielsa

Share

Skuat Timnas Uruguay dilaporkan mengalami pergolakan internal hebat setelah sejumlah pemain bintang melakukan aksi penolakan terhadap kepemimpinan pelatih kepala Marcelo Bielsa pada Sabtu, 27 Juni 2026.

Hubungan yang memanas antara juru taktik asal Argentina tersebut dengan para pemain pilarnya mencuat ke publik setelah kekalahan Uruguay dari Spanyol di laga terakhir fase grup.

Surat kabar AS mengabarkan situasi ekstrim di kubu Uruguay pasca-pertandingan, termasuk insiden kartu merah pemain dan friksi internal yang mendalam.

"Jika Cavani-lah yang menggulingkan layar VAR dalam pertandingan melawan Ghana di Piala Dunia Qatar, kali ini sorotan tertuju pada Canopio, gelandang Fluminense, yang diusir dari lapangan karena melakukan tekel keras terhadap Kobarsi pada masa tambahan waktu, lalu mendorong wasit dan berhadapan dengan seluruh bangku cadangan Spanyol." tulis surat kabar AS.

Ketegangan antara skuat dengan Bielsa dilaporkan telah mengakar lama akibat ketidakcocokan metode kepelatihan serta perilaku antarkedua belah pihak.

"Uruguay telah mencampuradukkan antara semangat kompetitif dan kekerasan dalam beberapa tahun terakhir, dan suasana yang terbentuk di sekitar sosok pelatih Marcelo Bielsa tidak membantu. Hari-hari menjelang pertandingan melawan Spanyol mengungkap krisis internal yang telah ada sejak lama. Metode pelatih tidak disukai para pemain, dan beberapa perilaku pemain tidak disukai pelatih." lanjut AS.

Gelandang Real Madrid, Fede Valverde, menjadi salah satu dari empat pilar utama yang secara langsung menyuarakan ketidakpuasan tim kepada sang manajer.

"Empat pemain inti, termasuk Fede Valverde, menyampaikan hal itu kepadanya. Yang lain memilih bersikap netral, meskipun akhir dari kepemimpinannya sudah tertulis. Suasana tegang di akhir babak kualifikasi meskipun tim berhasil lolos. Namun, semuanya bermula di Copa América; setelah tersingkir di semifinal, tanda-tanda pemberontakan mulai muncul." tulis laporan tersebut.

Persoalan perlakuan terhadap para pemain senior juga memicu kemarahan di internal tim maupun jajaran federasi sepak bola setempat.

"Tak seorang pun di tim, maupun di federasi, menyukai perlakuan menghina yang diterima beberapa legenda, termasuk Luis Suárez. Bagi banyak orang, seharusnya itu menjadi akhir era Bielsa. Ada ancaman untuk mengundurkan diri secara baik-baik. Rapat-rapat digelar di jajaran pimpinan tertinggi federasi, namun pada akhirnya tak ada yang berani menandatangani pemutusan kontrak." tambah media asal Madrid tersebut.

Faktor finansial dan besarnya nilai pesangon pemecatan menjadi alasan utama Federasi Uruguay terpaksa mempertahankan Bielsa meski kinerjanya digugat.

"Federasi Uruguay mempertahankannya karena kompensasi yang tinggi, dan hal ini memengaruhi performa tim di Piala Dunia… Di La Celeste, banyak staf yang mempertanyakan metodenya, tuntutannya yang ‘tidak masuk akal’, serta pengeluaran yang tidak perlu untuk perbaikan yang pada akhirnya tidak membuahkan hasil." tulis surat kabar itu lagi.

Kritik tajam atas performa tim dan kebijakan pemilihan pemain juga dilontarkan oleh mantan kapten sekaligus legenda hidup sepak bola Uruguay.

"Dia (Bielsa) membawa lima pemain yang cedera. Dia tidak mengerti apa-apa. Dia mengira bisa memberikan karakter yang lebih menyerang kepada tim, tetapi dia seharusnya tidak sampai ke Piala Dunia sejak awal." ujar Diego Lugano.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author