Pelemahan Rupiah Picu Lonjakan Inflasi Impor Melalui Tujuh Jalur

Share

Nilai tukar rupiah yang melemah berpotensi menjadi sumber tekanan inflasi baru pada 2026. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga berbagai komoditas impor dan membuat inflasi bertahan pada level yang lebih tinggi.

Indonesia mencatatkan lonjakan inflasi menjadi 3,08% pada Mei. Dilansir dari Bloomberg Technoz, inflasi periode Mei tak lagi hanya terjadi pada pangan, tetapi hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga.

Kelompok makanan dan minuman naik 4,94%, transportasi 2,3%, restoran 2,24%, kesehatan 1,70%, pendidikan 1,15%, hingga perawatan pribadi mencapai 10,35%. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup dari berbagai sisi sekaligus.

Dalam ekonomi, kondisi ini disebut broad-based inflation atau inflasi yang menyebar ke seluruh sektor. Josua menjelaskan meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) tidak memerinci sumber barang impor tersebut, jejaknya tetap bisa dibaca dari data BPS Mei 2026.

“Jejaknya tetap bisa dibaca jika kita tahu dari mana harus melihatnya,” kata Josua ketika dihubungi, Rabu (3/6/2026).

Josua mengungkapkan ada tujuh jalur transmisi mengenai barang impor saat rupiah melemah. Jalur pertama adalah barang impor yang dibeli langsung rumah tangga. Ketika rupiah melemah, barang konsumen seperti handphone, elektronik, suku cadang kendaraan, obat-obatan, dan kosmetik menjadi lebih mahal.

Pedagang biasanya menahan kenaikan harga dalam jangka pendek dengan menggunakan stok lama atau menekan margin. Dampaknya baru terasa ketika siklus pengadaan berikutnya tiba dan biaya pembelian sudah naik. Inflasi inti Mei 2026 yang naik dari 2,44% menjadi 2,59% year on year (yoy) sebagian karena impor barang elektronik yang semakin mahal.

Jalur kedua adalah biaya bahan baku industri yang tidak terlihat. Industri makanan-minuman memakai gandum, gula, kedelai, bahan pengawet, dan kemasan plastik dari luar negeri. Industri tekstil membutuhkan serat sintetis dan pewarna impor, sedangkan industri otomotif mengandalkan komponen, chip semikonduktor, dan baja khusus.

Ketika harga komoditas global naik atau rupiah melemah, biaya produksi naik dan produsen meneruskan kenaikan itu ke harga jual. Data PMI Manufaktur Mei 2026 dari S&P Global mencatat tekanan biaya input tertinggi kedua dalam sejarah survei sejak April 2011.

“Ini adalah sinyal awal yang sangat kuat bahwa inflasi dari sisi biaya produksi sedang bergerak ke arah harga konsumen,” jelas dia.

Jalur ketiga adalah energi dan transportasi. Harga minyak mentah, avtur, dan LPG nonsubsidi semuanya mengikuti harga internasional dan terpengaruh nilai tukar. BPS mencatat kelompok transportasi menyumbang inflasi bulanan 0,61% di Mei 2026, dengan bensin (+0,49%), tarif angkutan udara (+2,75%), pelumas (+3,85%), dan solar (+4,22%).

Jalur keempat melibatkan pangan olahan dan input pertanian seperti pupuk, pestisida, pakan ternak, benih, solar untuk distribusi, dan bahan baku pangan impor. Kenaikan harga minyak goreng di Mei 2026 menjadi penyumbang inflasi inti terbesar dengan andil 0,04% terhadap IHK umum.

“Kenaikan harga minyak goreng di Mei 2026, yang menjadi penyumbang inflasi inti terbesar dengan andil 0,04% terhadap IHK umum adalah contoh paling nyata,” terang Josua.

Jalur kelima berkaitan dengan gangguan geopolitik dan rantai pasok global. Ketegangan di Timur Tengah menciptakan gangguan ganda berupa kenaikan harga energi, peningkatan biaya pengiriman laut, hingga waktu pengiriman yang memanjang. PMI Manufaktur Mei 2026 mencatat waktu pengiriman dari pemasok memanjang untuk delapan bulan berturut-turut.

“Ekspor Indonesia ke pasar internasional bahkan turun dengan penurunan terdalam sejak Agustus 2021, menunjukkan bahwa tekanan geopolitik sudah memotong permintaan ekspor dari luar, bukan hanya menaikkan biaya impor dari dalam,” kata Josua.

Jalur keenam mencakup ekspektasi dan perilaku pelaku usaha. Ketika pengusaha melihat rupiah melemah dan biaya input memburuk, mereka menaikkan harga lebih awal untuk menjaga margin dan melindungi diri dari risiko pengadaan berikutnya.

“Kami mencatat bahwa inflasi dari sisi penawaran kini melampaui inflasi dari sisi permintaan, yang mengindikasikan risiko pass through/penyesuaian biaya dari produsen ke konsumen semakin nyata,” ungkapnya.

“Jika ekspektasi ini terus terbentuk, kenaikan upah, harga sewa, dan kontrak jasa akan ikut menyesuaikan, dan pada titik itu, tekanan dari luar negeri sudah menjadi masalah domestik yang lebih dalam.”

Jalur ketujuh adalah fiskal, subsidi, dan harga yang diatur pemerintah. Saat harga minyak dan kurs naik bersamaan, pemerintah dihadapkan pada pilihan menahan harga BBM Pertalite, LPG 3 kg, dan tarif listrik dengan subsidi yang membebani APBN, atau meneruskan kenaikan ke konsumen.

Defisit neraca perdagangan migas Indonesia sudah bertambah US$2,33 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan seluruh jalur transmisi tersebut, Josua menyarankan beberapa langkah mendesak.

Pertama, Bank Indonesia (BI) perlu mempertahankan stabilitas nilai tukar. Kedua, pemerintah perlu membangun sistem pemantauan inflasi impor yang lebih operasional dalam satu dashboard teronsolidasi. Ketiga, ketergantungan bahan baku impor pada sektor strategis harus diturunkan melalui kebijakan substitusi impor berbasis insentif.

“PMI Mei 2026 menunjukkan bahwa ketika rantai pasokan global terganggu, sektor manufaktur Indonesia langsung tertekan dari dua sisi sekaligus yakni biaya naik dan volume produksi turun. Kerentanan struktural ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan moneter,” jelas Josua.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: ekonomi impor Inflasi makro rupiah
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author