Panas Ekstrem di Afrika Mengancam Kelangsungan Hidup Populasi Unta
Suhu panas ekstrem yang terus melanda wilayah Afrika mendesak populasi unta hingga ke batas ketahanan fisik mereka dan memicu krisis kesehatan ternak secara meluas. Fenomena iklim ini berdampak serius bagi kelangsungan hidup para peternak nomaden, dilansir dari Detikcom.
Kondisi di kawasan Afar, Etiopia bagian timur laut, menjadi salah satu titik terparah akibat paparan suhu tinggi yang membakar wilayah tersebut. Para penggembala melaporkan lonjakan kematian ternak yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir.
Seorang penggembala dari Semera di Afar, Ali Umer, mengungkapkan dampak langsung fenomena ini terhadap ternaknya.
"Dalam sebulan terakhir saya kehilangan delapan anak unta karena panas ekstrem. Kondisinya menjadi jauh lebih intens dan sulit," kata Ali Umer.
Kenaikan suhu udara juga telah mengubah karakteristik angin di wilayah gurun yang sebelumnya menjadi pendingin alami.
"Bahkan angin yang dulu membawa udara sejuk kini membawa panas," kata Ali Umer.
Umer menambahkan bahwa perubahan drastis ini mengancam kondisi fisik hewan peliharaannya secara langsung.
"Saya bisa melihat unta-unta saya menderita akibat panas ekstrem," kata Ali Umer.
Kerusakan fisik akibat paparan permukaan pasir yang sangat panas terlihat nyata pada tubuh hewan-hewan tersebut.
"Kaki mereka melepuh, mata mereka berair, dan pasir yang panas membakar kulit mereka serta merusak bulu mereka saat mereka duduk," kata Ali Umer.
Umer juga mengungkapkan kekhawatiran yang memuncak terkait ancaman kesehatan pada ternak dewasanya.
Tekanan iklim ini tidak hanya dialami Umer sendirian, melainkan merata di berbagai wilayah Horn of Africa dan Afrika Utara. Kawasan Afrika Utara dan Tanduk Afrika sendiri menampung sekitar 80% dari total populasi unta dromedaris berpunuk satu di dunia.
Riset pada 2025 di Etiopia selatan mencatat laporan para peternak mengenai penurunan kinerja reproduksi dan kesehatan unta.
"Para responden melaporkan bahwa perubahan iklim dan variabilitas iklim telah mempengaruhi kesehatan, produktivitas, dan kinerja reproduksi unta," demikian isi studi tersebut.
Data lain dari Somalia per Juni menunjukkan kematian unta akibat kekeringan melanda hampir 46% keluarga pemilik unta, dengan tingkat kematian mencapai 73% di kawasan Sool. Selain itu, laporan State of the Climate in Africa 2025 dari WMO mencatat pemanasan di Afrika Utara mencapai 0,43 derajat Celsius per dekade sejak 1991 hingga 2025.
Petugas medis hewan di lapangan mengonfirmasi adanya lonjakan kasus penyakit yang dipicu oleh stres suhu udara.
"Kami melihat peningkatan signifikan kasus hipertermia pada unta yang menyebabkan mereka mengalami berbagai infeksi," kata Hassan Nuya Guyo, dokter hewan di Marsabit, Kenya.
Kematian populasi ternak di perbatasan Kenya dan Etiopia tersebut meningkat signifikan dalam rentang waktu singkat.
"Dalam dua tahun terakhir, kami telah melihat peningkatan lebih dari 15% kematian unta di wilayah kami akibat panas ekstrem," kata Hassan Nuya Guyo.
Sebuah analisis deret waktu di Aljazair mempertegas bahwa lonjakan kematian terjadi secara musiman selama gelombang panas puncak musim kemarau.
"Analisis deret waktu menyoroti pola kematian musiman yang signifikan, menegaskan perlunya intervensi yang ditargetkan selama periode berisiko tinggi yaitu ketika puncak bulan-bulan musim panas; semisal penyediaan air strategis, pakan tambahan, dan peningkatan pemantauan penyakit," demikian isi studi tersebut.
Secara biologis, unta sejatinya sanggup bertahan hingga suhu 40 derajat Celsius dengan menyesuaikan suhu tubuh mereka. Namun, lonjakan suhu ekstrem yang melampaui batas tersebut memicu tekanan fisiologis yang berbahaya bagi organ dalam hewan.
Pakar dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Dr Mohammed Bengoumi, memaparkan risiko fatal yang timbul ketika suhu melampaui ambang batas toleransi.
"Di banyak bagian Sahara, suhu musim panas kini sering melampaui 50 derajat Celsius, meningkatkan risiko stres panas yang parah, terutama ketika disertai berkurangnya tutupan vegetasi, kelangkaan air, dan terbatasnya akses ke tempat teduh," kata Dr Mohammed Bengoumi.
Dampak pemanasan ekstrem ini juga dikonfirmasi melalui pengujian laboratorium terhadap sel-sel tubuh unta.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa panas berkepanjangan siang dan malam di atas 41 hingga 45 derajat Celsius secara langsung menyerang sel-sel mereka," kata Profesor Abdelmadjid Chehma dari Universitas Ghardaia.
Kerusakan pada sistem pertahanan tubuh unta dipicu oleh kerusakan struktur sel darah akibat paparan panas konstan.
"Sistem kekebalan mereka menderita karena tingkat panas seperti itu merusak sel darah putih dan sel-sel lain akibat stres. Sel-sel tersebut kesulitan memperbaiki diri dan akhirnya menghancurkan diri sendiri," kata Profesor Abdelmadjid Chehma.
Tekanan gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya kini mengubah daya tahan alami unta menjadi kerentanan biologis.
"Meskipun unta tetap menjadi garis pertahanan terakhir para penggembala ternak terhadap gurun, intensitas gelombang panas saat ini yang belum pernah terjadi sebelumnya secara langsung mengancam fungsi-fungsi vital mereka, mengubah hewan yang secara historis tangguh ini menjadi korban perubahan iklim," kata Profesor Abdelmadjid Chehma.
Peneliti dari Vision University di Etiopia, Profesor Daniel Gelan, menyoroti pergeseran pola migrasi penggembala dari utara ke selatan akibat dampak kekeringan jangka panjang.
"Dan ini bukan perpindahan musiman para penggembala," kata Daniel Gelan.
Perubahan wilayah penggembalaan tersebut kini bersifat permanen demi mempertahankan kelangsungan hidup ternak yang tersisa.
"Mereka meninggalkan wilayah utara untuk selamanya karena mereka tidak lagi dapat mempertahankan usaha penggembalaan unta di sana akibat panas ekstrem dan kekeringan," kata Daniel Gelan.
Lembaga kemanusiaan Oxfam melaporkan bahwa akibat kekeringan parah di Somalia, harga air bersih melonjak hingga lebih dari 2.000% di beberapa wilayah.