Fahri Abdul Rasyid Gelar Pameran Jersey Persib di Bandung
Keberhasilan Persib Bandung mengunci gelar juara kasta tertinggi Liga Indonesia selama tiga musim berturut-turut memicu selebrasi unik. Klub berjuluk Maung Bandung tersebut kini resmi menyematkan lima bintang di dada mereka.
Kegembiraan atas pencapaian historis ini tidak cuma tumpah di jalanan atau stadion. Momen kejayaan tersebut juga diabadikan lewat sebuah pameran jersey yang memperlihatkan rekam jejak panjang klub kebanggaan masyarakat Jawa Barat.
Seperti dikutip dari Bola, pameran bertajuk nostalgia ini diinisiasi oleh Fahri Abdul Rasyid. Ia merupakan seorang Bobotoh yang telah mendedikasikan waktu selama lebih dari dua dekade untuk berburu kaus tim bersejarah.
Fahri menggandeng Visual Studio untuk merealisasikan acara ini. Ekshibisi bertempat di kawasan Cafe Gulapadi, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, dan dijadwalkan berlangsung sejak 24 Mei hingga 24 Juni 2026.
Agenda ini menyuguhkan ruang emosional bagi pendukung setia untuk mengingat kembali masa-masa perjuangan Persib. Pengunjung yang datang juga dipersilakan mengabadikan momen bersama koleksi-koleksi langka tersebut.
“Pameran ini dalam rangka menyambut Persib yang kini memiliki lima bintang dan menjadi juara tiga kali berturut-turut. Saya bekerja sama dengan Visual Studio membuat pameran di dalam studio foto,” jelas Fahri Abdul Rasyid saat ditemui, Kamis (4/6/2026).
“Jadi Bobotoh bisa berfoto sekaligus melihat koleksi jersey Persib,” lanjutnya.
Sebanyak kurang lebih 100 potong seragam bertanding dari berbagai periode dipajang dalam ruangan. Koleksi tersebut membentang dari era klasik tahun 1990-an sampai versi kontemporer yang dipakai pada musim juara terakhir.
Di antara seluruh koleksi, pakaian yang dikenakan punggawa Persib saat berhadapan dengan raksasa Italia, AC Milan, pada tahun 1994 menjadi pusat perhatian utama pengunjung.
“Kurang lebih ada 100an jersey, dari yang paling tua tahun 1994, Persib lawan AC Milan sampai yang terakhir musim juara,” kata Fahri.
Walau jumlah koleksinya terbilang fantastis, pria ini membeberkan bahwa arsip miliknya belum sepenuhnya lengkap. Masih ada beberapa seragam dari musim tertentu yang hingga kini belum berhasil dia dapatkan.
Berawal dari Seragam Produksi Vilour
Hobi besar ini rupanya muncul tanpa disengaja. Fahri mengaku tidak pernah merencanakan diri untuk menjadi seorang pengumpul seragam sepak bola profesional pada awalnya.
Titik balik tersebut terjadi pada tahun 2004 silam ketika dirinya membeli satu stel kaus Persib buatan jenama Vilour. Sejak saat itu, jumlah koleksinya terus berlipat ganda hingga menyentuh angka ratusan.
“Baru belakangan saya tahu ternyata ini disebut kolektor,” seloroh Fahri sambil tersenyum.
Proses mengarsip baju bertanding ini diakui memiliki tantangan yang sangat tinggi. Kesulitan terbesar muncul saat berburu pakaian dari era awal tahun 2000-an karena jalur penjualan resmi klub belum terintegrasi dengan baik.
Fahri mengandalkan komunikasi intensif dengan para pendukung senior, mantan penggawa Maung Bandung, serta jaringan pertemanan yang luas untuk melacak keberadaan barang-barang otentik tersebut.
“Kebanyakan saya dapat dari Bobotoh senior. Kadang lihat ada yang pakai jersey lama di stadion, lalu ngobrol dan akhirnya bisa mendapatkannya,” ungkap Fahri.
Kaus Ahmad Jufriyanto di Final ISL 2014
Bagi pria asal Bandung ini, nilai sebuah seragam terletak pada narasi sejarah yang melekat di dalamnya, bukan pada nominal uang. Ada satu koleksi yang dinilai menempati posisi paling emosional di hatinya.
Koleksi istimewa tersebut adalah seragam asli milik Ahmad Jufriyanto yang dipakai pada laga final Indonesia Super League (ISL) 2014. Kaus bernomor punggung milik pemain yang akrab disapa Jupe itu menjadi saksi runtuhnya dahaga juara.
Sebab, sebelum mengangkat trofi pada tahun 2014, Persib harus melewati masa paceklik gelar kompetisi kasta tertinggi nasional selama hampir dua puluh tahun.
“Ini yang paling memorable buat saya. Persib waktu itu hampir 20 tahun tidak juara, lalu akhirnya juara pada 2014. Saya juga mendapatkan jersey ini dari bang Haryanto di Palembang,” cerita Fahri.
Seluruh aset sejarah ini dirawat secara khusus di kediamannya. Fahri memandang ratusan potong kain tersebut sebagai dokumen fisik yang merekam dinamika perkembangan klub dari masa ke masa.
“Di rumah disimpan dan dijaga dengan baik karena menurut saya ini juga bagian dari arsip perjalanan Persib,” tuturnya bangga.
Misi Berburu Kaus Liga Indonesia Pertama
Meski ruang penyimpanannya sudah dipenuhi ratusan seragam, Fahri masih menyimpan satu ambisi besar yang belum terwujud. Ia sedang berupaya keras melacak seragam Persib dari musim perdana Liga Indonesia tahun 1994.
Kaus dari periode tersebut dikategorikan sebagai barang yang sangat langka. Salah satu kendalanya adalah minimnya atribut atau identitas visual yang spesifik pada kain untuk membedakannya dengan tim lain.
“Yang paling sulit dicari itu jersey tahun 1994, liga pertama. Tidak ada logo Persib yang jelas, jadi susah membedakannya dengan jersey tim lain yang warnanya sama-sama biru,” ucapnya.
Faktor kejelasan asal-usul menjadi parameter mutlak bagi Fahri sebelum bertransaksi. Ia tidak keberatan mengeluarkan dana besar asalkan aspek otentisitas dan rekam jejak kepemilikan barang bisa dipertanggungjawabkan.
“Kalau saya, jersey harus jelas asal-usulnya. Mau harganya mahal tidak masalah, yang penting sejarah dan keasliannya jelas. Nah, untuk jersey 1994 itu yang sangat sulit,” kata Fahri.
Fahri menegaskan bahwa sehelai kain pembungkus badan di lapangan hijau menyimpan memori kolektif yang menghubungkan fan lintas generasi dengan klub kesayangan mereka.