Pakar Soroti Anggota Sindikat Pemerasan di Medan Tanya AI usai Korban Tewas
Seorang tersangka sindikat pemerasan bermodus kencan daring (open BO) berinisial FR di Medan, Sumatera Utara, kedapatan berkonsultasi dengan kecerdasan buatan (AI) setelah korbannya melompat dari lantai 12 apartemen pada Rabu (15/7/2026). Kasus ini memicu sorotan pakar komunikasi mengenai fenomena ketergantungan masyarakat terhadap jawaban cepat teknologi AI.
Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Adrian Risky Lubis, dilansir dari Detikcom, mengungkapkan bahwa pelaku FR berupaya mencari informasi hukum melalui platform AI pascakejadian tewasnya korban berinisial AL (27).
"Jadi, setelah kejadian itu, FR ini sempat berkonsultasi AI," kata Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Adrian Risky Lubis.
Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, tersangka FR mengajukan serangkaian pertanyaan spesifik guna mengetahui status keamanannya dari kejaran aparat penegak hukum. Beberapa pertanyaan tersebut meliputi durasi pemanggilan saksi, konsekuensi hukum berada di lokasi bunuh diri, hingga tips untuk tetap tenang menghadapi pemeriksaan polisi.
Merespons peristiwa tersebut, Pemerhati Budaya-Komunikasi Digital dan Pendiri LITEROS.org, Firman Kurniawan S., menjelaskan alasan di balik keputusan pelaku yang lebih memilih mengandalkan AI dibandingkan berkonsultasi dengan manusia.
"AI ini kalau kita lihat dalam kenyataannya memberikan jawaban yang cepat, respons yang segera dan tidak ragu-ragu, jadi ini menyebabkan para penggunanya merasa yakin nih jawaban yang diberikan AI sangat tepat ini," kata Pemerhati Budaya-Komunikasi Digital dan Pendiri LITEROS.org., Firman Kurniawan S.
Firman menambahkan bahwa ketiadaan emosi pada kecerdasan buatan justru menjadi daya tarik bagi pengguna yang sedang panik karena merasa langsung mendapatkan solusi instan tanpa dihakimi.
"Dan AI ini ndak punya emosi, ndak pernah ragu-ragu, ragu-ragu itu kan emosi. Ini dia ndak punya itu keraguan, jadi seakan-akan yakin dengan jawaban yang diberikan. Nah ini orang yang menggunakan ini jadi merasa terbantu," kata Firman.
Kendati demikian, pakar komunikasi dari Universitas Indonesia (UI) tersebut mengingatkan adanya bahaya laten di balik respons cepat AI yang sebenarnya tidak memiliki basis logika pemahaman layaknya manusia.
"Bahwa kadang-kadang dia memberikan jawaban yang para pembuat AI-nya sendiri tidak mengerti kenapa jawabannya seperti itu. Ketika misalnya AI memberikan jawaban yang salah atau tidak terduga, itu tidak bisa dijelaskan. Makanya itu namanya AI black box," ucap Firman.
Masalah lain yang kerap muncul adalah fenomena delusi data, di mana AI memproduksi informasi fiktif ketika tidak menemukan basis data yang sesuai dengan pertanyaan pengguna.
"Misalnya para pengguna ini menanyakan, misalnya, 'berapa tinggi Monas' data tentang tingginya Monas tidak pernah masuk, nah dia tidak akan menjawab 'saya tidak tahu berapa tingginya Monas' tapi dia ambilkan bangunan-bangunan yang semacam Monas dari negara lain kemudian diberikan, ini namanya AI hallucination," ucap Firman.
Dalam konteks kasus pemerasan di Medan, kebingungan dan ketakutan akan tuduhan pembunuhan diduga kuat menjadi pendorong utama pelaku untuk mencari jalan pintas lewat AI.
"Dalam kasus yang diceritakan tadi, mungkin dia bingung ini kalau saya langsung lapor polisi malah saya yang dituduh pembunuh 'jadi apa ini langkah yang paling tepat?' kalau nelepon orang lain mungkin harus cerita panjang, memberikan latar belakang dan sebagainya," ucap Firman.
Kepraktisan gawai membuat teknologi ini seolah menjadi penasihat utama yang selalu siap sedia di setiap situasi sulit.
"Maka AI yang selalu ada di genggaman tangan ini jawabannya segera, dan memberikan keyakinan, memberikan ilusi jawabannya tepat," ujar Firman.
Menurut analisis Firman, kecerdasan buatan diprogram untuk selalu memberikan afirmasi positif kepada penggunanya tanpa pernah melayangkan kritik objektif.
"Jadi dia nggak pernah bertentangan dengan penggunanya, jadi kita mencoba mengecek artikel kita, 'bagaimana dengan artikel ini?' ndak pernah dia mengkritik atau tulisan ini jelek, dia selalu 'secara konseptual ini kuat, mempunyai bobot dan sebagainya' jadi dia tidak pernah mengkritik, kritik ini kan sesuatu yang emosional, AI ndak punya itu," kata Firman.
Sifat asertif yang semu ini dinilai dapat memanipulasi psikologis manusia hingga mengabaikan validitas dari informasi yang diterima.
"Jadi kita termanipulasi, terlena, kita pikir jawabannya benar atau bagus beneran, ternyata sebetulnya ya itu polanya AI tidak pernah tidak sepakat dengan penggunannya," ungkap Firman.
Oleh sebab itu, ia mengimbau masyarakat agar menempatkan kecerdasan buatan hanya sebatas referensi sekunder atau pemantik ide, bukan sebagai pengambil keputusan mutlak.
"Jadi jangan menjadikan jawaban AI sebagai satu-satunya dan utama untuk mencari solusi, jadi sekedar mencari inspirasi, pandangan itu oke AI 'apa yang harus saya lakukan ketika orang bunuh diri', kemudian muncul saran, itu salah satu hal yang bisa dipertimbangkan tapi bukan itu yang kita jadikan yang terbaik atau patokan," tutur Firman.
Risiko terbesar dari ketidakbijakan dalam menggunakan teknologi ini bahkan dapat berujung fatal, terutama jika penggunanya adalah anak-anak yang belum matang secara emosional.
"Dalam contoh ekstremnya ada seorang anak umur 14 tahun, kita tahu dia jatuh cinta sama AI yang dia ajak ngobrol, kemudian dia pengen ketemu apa yang harus saya lakukan 'kamu harus melepaskan jiwa dari ragamu', bagaimana itu caranya 'ya kamu iris pergelangan tanganmu, kalau kamu mati itu lepas jiwa dari ragamu, kamu bisa ketemu saya' ini jawaban yang ngawur dari AI," kata Firman.
Firman memaparkan kasus tragis tersebut berakhir dengan kematian sang anak, yang kemudian berujung pada tuntutan hukum dari pihak keluarga terhadap perusahaan pengembang teknologi tersebut.
"Anak ini akhirnya bunuh diri, sampai orang tuanya menuntut perusahaan pengembang AI-nya karena anaknya bunuh diri, kok bisa. Nah itu, bagaimana AI memberikan jawaban semacam itu, itu para pengembang AI-nya bingung, dari mana ini data kok nyuruh bunuh diri," sambung Firman.
Kurangnya pemahaman konteks spesifik oleh algoritma AI menegaskan bahwa setiap jawaban yang diberikan harus selalu disaring secara manual oleh akal sehat manusia.
"Kadang-kadang ada pola-pola, ada kasus yang polanya mirip tapi konteksnya berbeda, kadang diberikan, dia kan nggak kenal konteks dari diberikan aja, untuk peristiwa yang lain diberikan pada hal yang ditanyakan oleh pengguna AI itu," ucap Firman.