OJK Soroti Penurunan IHSG dan Lonjakan Jumlah Investor Domestik

Share

Otoritas Jasa Keuangan menilai Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berada pada level yang menarik karena ditopang oleh valuasi rendah dan perbaikan kinerja emiten dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI di Jakarta pada Rabu, 10 Juni 2026.

Penilaian tersebut mengemuka saat pasar saham domestik mengalami tekanan hebat sepanjang tahun 2026 akibat sentimen eksternal dan internal yang memicu aksi lepas saham oleh pemodal global.

Dilansir dari data Bursa Efek Indonesia hingga Jumat, 5 Juni 2026, investor asing mencatatkan aksi jual bersih mencapai Rp72,22 triliun di pasar reguler yang membuat IHSG merosot 37,42 persen dan sempat menyentuh level 5.346.

Kondisi pasar saham dipengaruhi oleh memanasnya konflik Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz, kenaikan harga minyak, revisi UU PPSK, penurunan cadangan devisa menjadi US$144,9 miliar, serta pelemahan rupiah hingga Rp18.168 per dolar AS.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan bahwa pergerakan IHSG kini semakin konvergen dengan indeks acuan global seperti MSCI dan FTSE Russell akibat respons positif atas reformasi regulasi.

Ketahanan pasar modal Indonesia saat ini juga dinilai masih sangat kuat karena ditopang oleh pertumbuhan masif basis investor ritel domestik yang mencapai 26,49 juta per April 2026.

Meski jumlah investor melonjak dari 12,17 juta pada 2023, Friderica mengingatkan bahwa tantangan pendalaman pasar masih besar sebab investor aktif harian baru berkisar 448.000 atau hanya 1,69 persen dari total keseluruhan.

Guna menjaga stabilitas sektor keuangan dari risiko likuiditas dan tekanan nilai tukar, regulator terus menerapkan pengawasan berbasis tinjauan masa depan secara ketat.

OJK memantau indikator intermediasi valas perbankan tetap sehat melalui rasio loan to deposit valas yang memadai serta posisi devisa neto yang berada di bawah ambang batas ketentuan.

Langkah penegakan hukum secara konsisten dan program strategis seperti penguatan UMKM serta ekonomi hijau terus didorong demi memastikan sektor keuangan tetap berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

"OJK juga secara berkelanjutan menilai ketahanan sektor jasa keuangan dalam berbagai skenario tekanan," kata Friderica, Ketua Dewan Komisioner OJK.

Di tengah situasi tersebut, data BEI menunjukkan PT Bank Central Asia Tbk menjadi saham yang paling banyak dilepas asing dengan net sell Rp32,44 triliun, disusul emiten perbankan dan komoditas lainnya.

Daftar Aksi Jual Bersih (Net Sell) Investor Asing Sepanjang 2026 hingga 8 Juni
No Nama Emiten Kode Saham Nilai Net Sell
1 PT Bank Central Asia Tbk BBCA Rp32,44 triliun
2 PT Bank Mandiri Tbk BMRI Rp10,89 triliun
3 PT Bank Rakyat Indonesia Tbk BBRI Rp9,68 triliun
4 PT Bumi Resources Tbk BUMI Rp8,42 triliun
5 PT Chandra Asri Pacific Tbk TPIA Rp4,88 triliun
6 PT Aneka Tambang Tbk ANTM Rp3,7 triliun
7 PT Amman Mineral Internasional Tbk AMMN Rp3,64 triliun
8 PT Bank Negara Indonesia Tbk BBNI Rp2,74 triliun
9 PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk GOTO Rp1,58 triliun
10 PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk CUAN Rp1,53 triliun

Sebaliknya, beberapa saham komoditas dan energi justru membukukan aksi beli bersih terbesar oleh investor global, dipimpin oleh PT Alamtri Resources Indonesia Tbk dan PT Merdeka Gold Resources Tbk.

Daftar Aksi Beli Bersih (Net Buy) Investor Asing Sepanjang 2026 hingga 8 Juni
No Nama Emiten Kode Saham Nilai Net Buy
1 PT Alamtri Resources Indonesia Tbk ADRO Rp2,31 triliun
2 PT Merdeka Gold Resources Tbk EMAS Rp2,15 triliun
3 PT Vale Indonesia Tbk INCO Rp2,11 triliun
4 PT United Tractors Tbk UNTR Rp1,9 triliun
5 PT Astra International Tbk ASII Rp1,88 triliun
6 PT Merdeka Copper Gold Tbk MDKA Rp1,88 triliun
7 PT Adaro Andalan Indonesia Tbk AADI Rp1,55 triliun
8 PT Bukit Asam Tbk PTBA Rp989,7 miliar
9 PT Indo Tambangraya Megah Tbk ITMG Rp971,84 miliar
10 PT Bumi Resources Minerals Tbk BRMS Rp967,97 miliar
Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author