OJK Pastikan Intermediasi Perbankan Tetap Terjaga di Tengah Pelemahan Rupiah
Intermediasi perbankan domestik dipastikan tetap kuat walaupun mata uang rupiah sedang mengalami pelemahan. Hal tersebut ditegaskan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap sektor keuangan nasional.
Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan kondisi tersebut saat menghadiri rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Rabu (10/6/2026). Sektor jasa keuangan dinilai memiliki ketahanan yang baik dalam menghadapi berbagai simulasi tekanan ekonomi.
"Di tengah tekanan nilai tukar, indikator intermediari, perbankan juga secara agregat masih mencatatkan posisi net long," kata Kiki dalam rapat tersebut.
Kiki juga menjelaskan bahwa posisi devisa neto perbankan saat ini masih berada di bawah ambang batas yang ditentukan. Indikator ini menunjukkan bahwa eksposur risiko dari fluktuasi nilai tukar asing di sektor perbankan masih berada dalam kondisi yang aman.
Guna mengantisipasi dinamika ke depan, OJK terus mengintensifkan pengawasan yang berbasis pandangan masa depan melalui uji tekanan secara berkala. Pemantauan ketat juga difokuskan pada risiko likuiditas, permodalan, kualitas aset, hingga konsentrasi risiko.
Langkah pengawasan ini berjalan beriringan dengan strategi penguatan fungsi intermediasi, perluasan aset jasa keuangan, serta peningkatan ekosistem pembiayaan bagi sektor UMKM. Selain itu, pendalaman pasar keuangan terus dipacu sebagai sumber pendanaan pembangunan, termasuk pengembangan ekonomi hijau.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan dinamika yang fluktuatif. Pada pembukaan perdagangan Kamis (11/6/2026), mata uang Indonesia sempat melanjutkan tren penguatan yang telah terjadi selama dua hari sebelumnya.
Rupiah terpantau menguat 0,03% ke level Rp17.948/US$ saat perdagangan dibuka di tengah ketegangan geopolitik global antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel. Namun, pergerakan tersebut berbalik arah hingga rupiah melemah 0,09% ke posisi Rp17.970/US$.
Sinyal positif yang muncul pada hari sebelumnya dipicu oleh kembalinya aliran modal ke aset-aset domestik. Sentimen ini menguat setelah otoritas moneter memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin hingga menyentuh angka 5,5%.