OJK Catat Realisasi Buyback Saham Emiten Capai Rp17,12 Triliun
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan realisasi pembelian kembali atau buyback saham oleh emiten di bursa domestik baru mencapai Rp17,12 triliun dari total alokasi dana Rp65,34 triliun pada Rabu, 10 Juni 2026. Langkah korporasi ini berjalan di tengah momentum pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah sempat mengalami tekanan hebat.
Data regulator menunjukkan alokasi jumbo tersebut disiapkan oleh 65 emiten melalui skema tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Rendahnya realisasi yang baru menyentuh angka 30,25 persen mengindikasikan masih tersedianya ruang dana sekitar Rp48 triliun untuk menjaga stabilitas pasar ke depan.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi menjelaskan terdapat 106 keterbukaan informasi terkait buyback tanpa RUPS sejak Maret 2025 hingga 18 Mei 2026. Kebijakan ini mengacu pada POJK Nomor 13 Tahun 2023 yang mengizinkan pembelian kembali hingga 20 persen dari modal disetor saat pasar berfluktuasi signifikan.
"Dari 65 emiten tersebut, terdapat 64 emiten yang telah melakukan pelaksanaan buyback dengan nilai realisasi sebesar Rp17,12 triliun atau sebesar 30,25%," kata Hasan dalam keterangannya dikutip Rabu (10/6/2026).
Hasan menambahkan bahwa mayoritas emiten saat ini berada dalam kondisi keuangan yang sehat dan memiliki prospek usaha positif. Dukungan fundamental yang kuat ini menjadi landasan penting bagi penilaian para pemodal global.
"Dalam kondisi pasar yang mengalami tekanan saat ini, investor tentunya akan melakukan penilaian berdasarkan informasi yang terpercaya, kondisi fundamental, dan valuasi harga saham saat ini," ujarnya.
Menurut Hasan, aksi korporasi ini menjadi sinyal kepercayaan manajemen terhadap kinerja internal perusahaan. Fleksibilitas regulasi sengaja diberikan agar emiten dapat merespons dinamika pasar secara cepat.
"Kebijakan tersebut memberikan ruang bagi emiten untuk menunjukkan keyakinan terhadap kinerja dan fundamental perusahaannya, sekaligus membantu menjaga stabilitas harga saham," kata Hasan.
Di sisi lain, sentimen positif pasar juga terdongkrak oleh kebijakan moneter terbaru. Ketua Dewan OJK, Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan kenaikan BI Rate menjadi 5,5 persen pada Selasa, 9 Juni 2026, berhasil memicu rebound pasar modal serta memperkuat nilai tukar rupiah melalui kolaborasi Komite Stabilisasi Sektor Keuangan (KSSK).
"Kami dalam konteks KSSK, Komite Stabilisasi Kekeuangan, konsepnya sama dengan sangat erat, BI, Kemenku, OJK, LPS, untuk bersama-sama kecermati situasi saat ini. Namun kalau kita lihat, teman-teman juga lihat ya, hari ini kan market sudah rebound ya," kata Friderica di Gedung Dhanapala, Selasa (9/6/2026).
Friderica menegaskan bahwa fluktuasi tajam sebelumnya tidak hanya melanda Indonesia, melainkan menjadi fenomena global akibat eskalasi ketidakpastian eksternal. Koreksi mendalam bahkan memicu penghentian sementara perdagangan di beberapa bursa luar negeri.
" Karena banyak sekali juga hal-hal yang pertama, kalau kita lihat market kan memang ya, kalau kita lihat kemarin kayak di Korea itu sampai trading halt ya, karena sudah 8,5 persen lebih mereka turun, dan juga bursa-bursa lainnya. Tapi di kita kemarin juga cukup dalam turunnya, tapi hari ini alhamdulillah rebound," bebernya.
OJK menilai pelonggaran mekanisme pembelian saham tanpa RUPS menjadi stimulus efektif bagi emiten untuk menahan kejatuhan harga lebih dalam. Langkah ini mulai direspons positif oleh pelaku pasar yang mencari kepastian likuiditas.
"Dan kita lihat juga beberapa hal yang kemudian menjadi pertanyaan dari investor sudah disampaikan, dan juga kita melihat juga upaya untuk buyback saham ya, tanpa RUPS sudah mulai ada untuk dilakukan," tandasnya.
Dalam pemberitaan wartaekonomi.co.id, Friderica kembali menekankan pentingnya sinergi dan perbaikan sentimen demi keberlanjutan pemulihan pasar keuangan domestik.
“Hari ini kan market sudah rebound ya. Karena banyak sekali juga hal-hal yang, pertama kalau kita lihat market memang ya,” kata Friderica saat menjawab pertanyaan mengenai kondisi pasar keuangan, Selasa (10/6/2026).
Friderica mengonfirmasi koreksi indeks saham nasional dalam beberapa hari terakhir kini mulai berbalik arah seiring kejelasan informasi dari para pemangku kepentingan.
“Di kita kemarin juga cukup dalam turunnya, tetapi hari ini alhamdulillah rebound,” ujarnya.
Regulator berharap perpaduan aksi buyback dan koordinasi antarotoritas mampu memulihkan kepercayaan investor secara jangka panjang.
“Kita melihat juga upaya untuk buyback saham tanpa RUPS sudah mulai ada wacana untuk dilakukan,” kata Friderica.
Upaya bersama ini diharapkan mampu mengembalikan posisi IHSG ke zona hijau secara konsisten.
“Jadi kita melihat ini sama-sama yuk supaya market kita bisa kembali lebih rebound,” ujar Friderica.
Saat ini, OJK mencatat masih ada tujuh emiten yang berada dalam periode pelaksanaan buyback tanpa RUPS dengan estimasi nilai mencapai Rp5,76 triliun.
| Keterangan | Nilai | Catatan |
|---|---|---|
| Total buyback di seluruh emiten | Rp65,34 triliun | 65 emiten terdata |
| Realisasi hingga kini | Rp17,12 triliun | 64 emiten |
| Buyback dalam proses | Rp5,76 triliun | 7 emiten |
OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan bursa agar seluruh aktivitas transaksi modal berjalan secara teratur, wajar, efisien, dan transparan.