Nostalgia Ponaryo Astaman: Chemistry Emas dan Kejayaan Sriwijaya FC
Satu dekade di lini tengah Timnas Indonesia, dari tahun 2003 hingga 2013, nama Ponaryo Astaman nyaris tidak tergantikan. Gelandang elegan kelahiran Balikpapan ini pernah memimpin skuad Garuda sebagai kapten, mempersembahkan posisi runner-up Piala AFF 2004, runner-up Pestabola Merdeka 2006, hingga trofi juara Indonesian Independence Cup 2008. Langkah kakinya di level klub telah menjelajahi seantero negeri, mulai dari PKT Bontang, PSM Makassar, Arema Malang, Persija Jakarta, hingga melanglang buana ke Liga Malaysia bersama Melaka TMFC, sebelum akhirnya gantung sepatu di Borneo FC pada 2017. Kini, ia masih mendedikasikan dirinya untuk Pesut Etam sebagai Direktur Utama atau CEO klub.
Namun, dari semua lembaran karier yang panjang itu, ada satu babak yang tetap tersimpan paling indah di sudut ingatannya: masa-masa keemasan bersama Sriwijaya FC. Di sanalah, untuk pertama dan satu-satunya kali, Ponaryo merasakan manisnya gelar juara kasta tertinggi sepak bola Indonesia bersama sebuah kelompok pemain yang ia nilai paling serasi yang pernah ada.
Melalui kanal YouTube Bola Bung Binder, Ponaryo membuka kembali memori tersebut dengan penuh ketulusan dan kehangatan, mengisahkan bagaimana semua mimpi itu berawal.
Langkah awal Ponaryo di dunia sepak bola profesional ternyata berakar dari hal yang sangat sederhana, yaitu kecintaan masa kecil yang polos terhadap si kulit bundar. Tidak pernah ada rencana besar yang dirancang sejak dini, melainkan hanya sebuah kesenangan yang terus dirawat hingga akhirnya bertransformasi menjadi karier seutuhnya.
"Awalnya kan memang berangkat dari hobi. Jadi menjalaninya itu ya dengan rasa senang, excited. Kemudian juga perjalanan karier berpindah dari satu klub ke klub yang lainnya," ujar Ponaryo.
Pengembaraan dari satu klub ke klub lain tersebut bukanlah tanpa arah. Ponaryo mengungkapkan bahwa ada satu ambisi besar yang selalu membakar semangatnya sepanjang karier, yaitu sebuah trofi juara.
"Ingin meraih achievement yang paling tinggi gitulah, juara. Itu alasan saya kenapa beberapa kali pindah klub sampai akhirnya merasakan juara pertama kali di Sriwijaya," katanya.
Era Keemasan Bersama Laskar Wong Kito
Bersama Sriwijaya FC, dahaga Ponaryo akan prestasi tertinggi akhirnya terpuaskan secara luar biasa. Ia berhasil merengkuh gelar juara Indonesia Super League 2011/2012, Piala Indonesia 2010, Indonesian Community Shield 2010, serta trofi Indonesian Inter Island Cup pada tahun 2010 dan 2012. Deretan gelar ini mengukuhkan era bersama Sriwijaya FC sebagai puncak karier klubnya yang tiada banding.
Namun, melampaui megahnya trofi-trofi yang berjejer, hal yang paling melekat dalam sanubari Ponaryo adalah kualitas luar biasa dari rekan-rekan setimnya di Laskar Wong Kito kala itu. Kehadiran figur-figur kelas wahid seperti Firman Utina, M. Ridwan, Mahyadi Panggabean, Lim Joon-sik, hingga penyerang tajam Keith Kayamba Gumbs melahirkan sebuah kolektif yang sangat istimewa.
"Kalau yang saya rasakan, asyik waktu itu memang. Karena pemain-pemain yang ada di situ sudah cukup lama kita tahu satu sama lain, terutama di timnas. Jadi chemistry-nya itu memang sudah ada, di samping faktor individu skill-nya juga memang menunjang," tutur Ponaryo.
Otomatisasi di Lapangan Hijau
Untuk melukiskan kedalaman dinamika tim Sriwijaya FC pada masa itu, Ponaryo memilih satu istilah yang sangat kuat: otomatisasi. Ini bukan sekadar kekompakan taktis biasa, melainkan sebuah ikatan pemahaman kolektif yang begitu mendalam, membuat setiap pemain seolah bisa membaca masa depan sebelum bola menyentuh kaki mereka.
"Saya sebelum dapat bola saja saya sudah tahu mau ngapain. Ini pasti di sini ada Firman, sebelah sana pasti ada Ridwan. Kayamba juga kayak gitu," kenang Ponaryo.
Keharmonisan taktik yang berjalan otomatis ini tidak jarang memicu situasi jenaka di lapangan. Ponaryo mengenang momen ketika ia sering menegur Firman Utina dengan nada bercanda lantaran sang rekan terlalu rajin turun ke belakang untuk menjemput bola.
"Sampai Firman sering billing, kalau dia jemput bola ke bawah itu saya sering marah. 'Eh, ngapain sampai ke bawah-bawah sini? Enggak ada kerjaan apa di depan. Tunggu aja di depan, entar bola ke sana sendiri'," cerita Ponaryo sambil tertawa.
Bagi Ponaryo, kejayaan sejati Sriwijaya FC bukan sekadar angka di papan skor atau deretan piala di lemari pajangan. Ini adalah kisah tentang sekelompok pesepak bola yang bermain dengan hati yang bebas, mengalirkan bola dari satu lini ke lini lain dengan keindahan yang sulit diungkapkan.
"Bermain sebagai satu tim dengan pemain-pemain seperti itu memang menimbulkan excitement yang oke, yang susah dibilang, tapi kayak kita main ya main aja, ngalir aja gitu loh," pungkas Ponaryo.
"Itu yang memperingan kerja masing-masing pemain dan masing-masing lini karena chemistry yang sudah sangat-sangat terjalin."
Romantisme masa lalu itu kini menjadi fondasi berharga yang ia bawa dalam mengemban tugas sebagai CEO Borneo FC. Sebuah refleksi abadi bahwa sebuah tim yang hebat tidak hanya dilahirkan dari kumpulan talenta individu, melainkan dari ikatan batin yang jauh lebih dalam.