Nilai Tukar Rupiah Melemah Hingga Rp17.957 Per Dolar AS

Share

Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh posisi Rp17.957 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026). Dilansir dari Bloomberg Technoz, depresiasi sebesar 0,62 persen ini menempatkan mata uang Indonesia sebagai salah satu yang terlemah di kawasan Asia.

Posisi penutupan tersebut menjadi rekor nilai tukar terlemah sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia. Faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak Brent yang mendekati US$100 per barel dan tingginya indeks dolar AS pada level 99 turut memicu pelemahan mata uang di berbagai negara kawasan.

Rupiah menempati posisi terpuruk kedua di Asia setelah ringgit Malaysia, diikuti oleh rupee India. Selain itu, yuan offshore dan dolar Singapura yang biasanya bergerak stabil juga mengalami pelemahan pada sesi perdagangan yang sama.

Kondisi internal ikut memperparah tekanan terhadap rupiah akibat inkonsistensi kebijakan domestik. Sentimen buruk datang dari defisit ganda, di mana Bank Indonesia mengumumkan defisit Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 mencapai US$9,15 miliar, membengkak dari kuartal sebelumnya sebesar US$6,07 miliar.

Transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Angka tersebut menunjukkan penurunan tajam dibandingkan periode kuartal sebelumnya yang masih membukukan surplus sebesar US$2,5 miliar.

Kekhawatiran investor bertambah setelah data inflasi periode Mei 2026 melonjak hingga 3,08 persen yang berpotensi mengoreksi daya beli masyarakat. Kenaikan harga terjadi di hampir semua sektor, dipimpin oleh perawatan pribadi sebesar 10,35 persen dan kelompok makanan minuman sebesar 4,94 persen.

Sentimen negatif domestik diperlengkap oleh langkah Moody's Ratings yang menetapkan peringkat kredit Baa2 untuk pertama kalinya kepada PT Danantara Investment Management (DIM). Peringkat ini dinilai menahan ekspektasi terhadap entitas di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara tersebut yang awalnya digadang-gadang menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: finansial makroekonomi rupiah
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author