Netanyahu Tolak Kesepakatan Gaza dan Bedas Pandangan dengan Trump

Share

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menolak draf kesepakatan perdamaian Jalur Gaza yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Langkah ini mempertegas kabar perpecahan hubungan di antara kedua pemimpin sekutu tersebut, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Kamis (6/8/2026).

Penolakan tersebut disampaikan Netanyahu meskipun ia telah menerima jaminan dari Dewan Perdamaian bahwa penarikan tentara Israel baru dilakukan usai Hamas melucuti senjatanya. Melalui pernyataan video pada Selasa (4/8/2026) malam, Netanyahu mengonfirmasi bahwa tim Trump telah mengirimkan draf rencana demiliterisasi Gaza kepada pihak Tel Aviv.

"Kami sedang mengkajinya. Mereka mengirimkan draf kepada kami–kami tidak menyetujuinya, itu bukan draf dari kami. Kami telah mengirimkan tanggapan kami," kata Netanyahu.

Sikap keras tersebut juga disampaikan Netanyahu saat bertemu utusan utama Dewan Perdamaian, Nickolay Mladenov, pada Senin (3/8/2026). Ia menegaskan militer Israel diperintahkan untuk mengambil seluruh tindakan yang diperlukan demi melindungi wilayah dan warga sipilnya.

Kesepakatan perdamaian yang diumumkan Trump bersama Dewan Perdamaian pada 31 Juli lalu mencakup 20 poin rencana, termasuk peta jalan gencatan senjata, transisi administratif, serta penarikan pasukan Israel secara bertahap. Namun, penolakan Netanyahu menguat seiring dorongan dari dua menteri sayap kanan ekstrem dalam kabinetnya yang menuntut pemungutan suara ulang atas kesepakatan itu.

Kondisi ini memicu kritik keras dari mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak. Barak menilai Netanyahu kini mulai diabaikan oleh Trump dan telah kehilangan daya tawar dalam negosiasi internasional.

"Bahasa dalam kesepakatan itu sangat ambigu, namun arah umumnya jelas. Israel dan tuntutannya telah diabaikan," kata Barak.

Menurut Barak, kerangka kerja baru yang disusun AS tidak mensyaratkan perlucutan senjata total oleh Hamas maupun pengasingan para pemimpinnya, melainkan hanya mengatur kembali kendali atas wilayah Gaza.

"Sebaliknya, kesepakatan itu berbicara mengenai penghentian pembunuhan dan kembali pada kendali 53% atas Jalur Gaza, bukan 65%," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keretakan hubungan diplomatik antara kedua negara sekutu tersebut sudah semakin memburuk.

"Kenyataan pahitnya adalah Trump tidak lagi memedulikan Netanyahu, dan semua ini sangat mengkhawatirkan," ucapnya.

Barak menilai keretakan ini mengancam posisi diplomasi Tel Aviv di kawasan Timur Tengah.

"Hubungan Trump dengannya telah mengalami keretakan yang dalam," ujarnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Gaza Israel Netanyahu Trump
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author