Mobil Listrik China Mulai Mengusik Dominasi LCGC di Indonesia

Share

Pasar otomotif nasional mulai menyaksikan persaingan baru setelah kehadiran kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) asal China mengusik dominasi mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC). Fenomena ini dipicu oleh selisih harga kedua segmen yang semakin tipis pada Selasa (26/5/2026).

Dilansir dari Bloomberg Technoz, situasi pasar saat ini telah bergeser dari beberapa tahun lalu ketika LCGC menjadi primadona karena harganya yang paling terjangkau serta efisiensi bahan bakarnya. Penyusutan jarak harga ini mendorong konsumen untuk menimbang ulang pilihan mereka.

“Sekarang ini harga LCGC dengan EV sudah beda tipis. Membuat konsumen yang berharap bisa menikmati teknologi terkini berani mencoba, mulai membandingkan,” kata Bebin Djuana, Pengamat Otomotif.

Faktor lain yang membuat kendaraan listrik kian diminati adalah tawaran teknologi modern, biaya operasional yang lebih ekonomis, serta fitur keselamatan dan kenyamanan yang lebih melimpah. Di sisi lain, pengguna LCGC sejauh ini masih terbantu oleh izin penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

“Ketika kendaraan ICE yang lain sudah gaduh dengan kenaikan harga BBM, pemakai LCGC seharusnya masih tenang dengan diperbolehkannya memakai BBM bersubsidi. Tapi ketika suatu hari BBM menjadi langka, pada saat itu pemakai LCGC akan gaduh dan galau juga. Karenanya EV menjadi alternatif terbaik,” tutur Bebin Djuana.

Ketidakpastian masa depan pasokan bahan bakar fosil tersebut dinilai bisa mengubah kenyamanan para pemilik LCGC. Meskipun pada awal peluncurannya dipuji sebagai opsi kendaraan murah, keunggulan LCGC kini mulai dipertanyakan seiring peningkatan harga yang terus terjadi.

“Dengan berjalannya waktu apakah benar murah? Harganya terus naik. BBM hemat tapi tidak sehemat yang dijanjikan,” sebut Bebin Djuana.

Walakin, LCGC diprediksi tetap memiliki pangsa pasar tersendiri karena statusnya sebagai kendaraan termurah di tengah kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Kehadiran EV sekadar memperluas opsi kompetitif bagi konsumen, meski masih memboyong tantangan tersendiri.

“Memang EV belum bisa menjanjikan berapa harga bekasnya nanti. Soal kehandalan belum ada yang bisa membagikan pengalaman karena brand masih baru. Hal-hal ini yang dipertaruhkan sebagai konsumen,” beber Bebin Djuana.

Tantangan nilai jual kembali dan keandalan jangka panjang menjadi faktor yang belum teruji bagi merek-merek baru kendaraan listrik di tanah air.

Secara global, International Energy Agency (IEA) memproyeksikan penjualan mobil listrik akan menyentuh angka 23 juta unit pada tahun 2026, atau merepresentasikan hampir 30 persen dari total penjualan mobil di seluruh dunia. Laporan terbaru Global EV Outlook dari IEA menyebutkan tren penguatan ini tetap berjalan solid di tengah krisis energi akibat konflik di Timur Tengah.

Pada tahun 2025, penjualan mobil listrik global sudah mencatatkan pertumbuhan sebesar 20 persen hingga melampaui angka 20 juta unit. Volume tersebut menandakan bahwa sekitar 25 persen dari total seluruh mobil baru yang terjual di dunia pada tahun lalu merupakan kendaraan listrik.

Kawasan Asia Tenggara mencatatkan diri sebagai salah satu wilayah dengan pertumbuhan EV tercepat setelah penjualan mobil listriknya melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025 dengan pangsa pasar mendekati 20 persen. Pangsa pasar di Asia Tenggara bahkan berpotensi melompat hingga 60 persen pada 2035 mendatang.

Pertumbuhan masif di regional ini didorong oleh harga kendaraan yang semakin kompetitif dan dukungan kebijakan insentif dari pemerintah. Vietnam, yang kini berstatus sebagai pasar EV terbesar di Asia Tenggara, telah mengumumkan rencana perluasan insentif pajak kendaraan listrik sebagai langkah responsif terhadap krisis energi global.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author