Misbakhun Tepis Anggapan Pelemahan Rupiah Saat Ini Sama Seperti Krisis 1998
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menyanggah penilaian yang menyebutkan kondisi penurunan nilai tukar rupiah saat ini serupa dengan krisis finansial pada tahun 1998. Dilansir dari Detik Finance, ia menilai pandangan masyarakat tersebut banyak dipengaruhi oleh paparan algoritma di media sosial.
Misbakhun memaparkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah saat ini berada di kisaran level Rp17.717 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, mata uang Indonesia tersebut bergerak pada fluktuasi di kisaran level Rp16.000-an.
Kondisi ini berbeda dengan situasi pada tahun 1998, di mana rupiah merosot tajam dari level Rp2.400 ke level Rp17.600. Dirinya menegaskan bahwa tatanan serta struktur ekonomi nasional saat ini memiliki ketahanan yang jauh lebih baik.
"Kita harus yakinkan kepada masyarakat Indonesia bahwa rupiaj Rp 17.800 itu memang sebuah fenomena. Angka yang sangat tinggi untuk saat ini, tapi ingat bahwa Rp saat ini mungkin pernah menyamai krisis 98. Krisis 98 rupiah Rp 17.500-Rp 17.800 itu berangkat dari angka proxy? Berangkat dari angka Rp 2.400. Rupiah sekarang berada pada level Rp 17.600 itu berangkat dari Rp 16.000 sekian. Situasi struktur ekonomi kita juga berbeda," ujar Misbakhun.
Lebih lanjut, Misbakhun menjelaskan bahwa krisis tahun 1998 diwarnai oleh gelembung ekonomi yang memicu kebangkrutan masal lembaga keuangan akibat gagal bayar. Meski demikian, era tersebut juga mendatangkan keuntungan mendadak bagi sebagian pihak dari selisih nilai kurs.
"Sekarang juga yang sama, tetapi hanya pada sektor tertentu. Artinya apa? Secara fundamental ekonomi kita sangat kuat. Pada saat itu 98 kita mengalami pertumbuhan minus 13%. Inflasi jangan ditanya. Tetapi kita sekarang menghadapi situasi ekonomi yang tumbuh," kata Misbakhun.
Saat ini, Indonesia telah menjadi bagian dari anggota G20 dengan capaian pertumbuhan ekonomi yang konsisten berada di atas angka 5%. Selain itu, performa neraca perdagangan nasional terus mencatatkan hasil positif melalui surplus selama 71 bulan berturut-turut.
Kekhawatiran kolektif akan berulangnya krisis moneter masa lalu dinilai lebih banyak dipicu oleh konsumsi konten digital. Faktor tersebut kemudian berkembang menjadi sentimen tersendiri bagi dinamika perekonomian domestik.
"Kita berhadapan kepada sebuah situasi antara fundamental versus sentimen, realitas melawan media sosial," ujar Misbakhun.