Militer AS Serang Iran Selatan Delapan Personel Militer Tewas
Gelombang serangan terbaru militer Amerika Serikat di wilayah selatan Iran menewaskan sedikitnya delapan personel militer setempat pada Rabu (8/7), memicu ketegangan baru setelah aksi saling serang di kawasan Selat Hormuz, seperti dilansir dari Detikcom.
Aksi militer ini merupakan balasan Washington atas dugaan keterlibatan Teheran dalam serangan terhadap sejumlah kapal komersial di Selat Hormuz. Pihak Iran merespons dengan menggempur pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Media pemerintah IRNA melaporkan ledakan keras mengguncang kota pelabuhan Bandar Abbas, Konarak, Chabahar, serta pangkalan militer di Bushehr yang menjadi lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir sipil. Sebuah jembatan kereta api di wilayah timur laut Iran juga dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat serangan udara tersebut.
"Menyusul agresi kriminal yang dilakukan pagi ini oleh militer teroris AS terhadap wilayah-wilayah di Iran bagian selatan, delapan anggota pemberani dari Angkatan Udara dan Angkatan Laut militer Republik Islam Iran di Bandar Abbas (wilayah selatan) dan Bushehr (wilayah barat daya) gugur sebagai syuhada," kata militer Iran dalam pernyataan resmi melalui televisi pemerintah.
Pihak Amerika Serikat langsung merespons situasi tersebut melalui pernyataan tingkat tinggi mengenai kelanjutan hubungan bilateral kedua negara.
"Saya pikir itu sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka. Mereka sampah, mereka orang-orang sakit, mereka dipimpin oleh orang-orang sakit jiwa, dan mereka orang-orang yang kejam dan brutal. Dan jika mereka memiliki senjata nuklir, mereka akan menggunakannya," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pengumuman dari Gedung Putih tersebut sekaligus menandai berakhirnya kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya berlaku antara Amerika Serikat dan Iran.