Militer Amerika Serikat Serang Sejumlah Target Militer di Iran
Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan udara terbaru yang menargetkan infrastruktur militer di wilayah Iran pada Kamis (11/6) dini hari waktu setempat. Gempuran ini disebut pihak Washington sebagai aksi pertahanan diri untuk merespons ancaman terhadap pasukannya, seperti dilansir dari Detikcom melalui laporan AFP dan Anadolu Agency.
Komando Pusat AS atau CENTCOM, yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, menyatakan gempuran tersebut menyasar fasilitas strategis. Operasi ini melibatkan berbagai matra militer Amerika Serikat untuk melumpuhkan titik pertahanan udara, jaringan komunikasi, serta kemampuan pengintaian militer milik Iran.
"Aset-aset Korps Marinir, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut AS menembakkan sejumlah amunisi presisi ke target-target Iran yang menimbulkan ancaman bagi pasukan AS dan kapal-kapal komersial yang melintasi perairan regional," kata CENTCOM.
Aksi militer ini memperkeruh situasi di Timur Tengah yang sedang berada dalam fase gencatan senjata yang rapuh sejak April lalu. Pihak militer Amerika Serikat mengeklaim tindakan tersebut diambil demi melindungi stabilitas kawasan dari ancaman serangan lanjutan.
"Serangan-serangan tersebut sebagai tanggapan terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan. Pasukan AS tetap waspane, mematikan, dan siap," sebut CENTCOM.
Perintah penyerangan ini diturunkan langsung oleh Presiden Donald Trump setelah adanya insiden penembakan jatuh helikopter Apache milik AS oleh pihak Iran di kawasan Selat Hormuz beberapa hari sebelumnya. Dampak serangan udara ini dikonfirmasi oleh media-media lokal di Iran.
Televisi pemerintah Iran mengabarkan bahwa sejumlah ledakan hebat terdengar di bagian selatan negara tersebut akibat proyektil yang ditembakkan pihak musuh. Berdasarkan laporan lokal, aktivitas pertahanan udara serta guncangan ledakan terpantau di beberapa area Provinsi Hormozgan seperti Bandar Abbas, Jask, Qeshm, Sirik, dan wilayah Kargan di kota Minab.