BMKG Peringatkan Ancaman Kekeringan Ekstrem akibat El Nino Kuat
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian II Agustus 2026 akibat dorongan fenomena El Nino kategori sangat kuat. Puncak musim kemarau ini berdampak pada meluasnya potensi kekeringan ekstrem hingga memicu kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah Indonesia.
Pemetaan BMKG mencatat sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia atau setara 535 Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Dari total tersebut, sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia diproyeksikan mengalami puncak kemarau sepanjang Agustus 2026.
Sebanyak delapan provinsi ditetapkan masuk dalam kategori Awas kekeringan, yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara itu, Kabupaten Bima di NTB menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah dengan catatan hari tanpa hujan mencapai 84 hari.
"Kecamatan Belo dan Kecamatan Bolo di Kabupaten Bima menempati daerah paling lama tanpa hujan," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini.
Peningkatan suhu udara dan kondisi kering juga memicu lonjakan titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG mengidentifikasi empat provinsi prioritas penanganan karhutla, dengan konsentrasi hotspot terbanyak berada di Kalimantan Barat, disusul Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur.
"Saat ini terkait dengan analisis titik panas untuk update 19 Agustus, ada empat provinsi yang menjadi prioritas. Yang pertama Kalimantan Barat, kebetulan jumlah hotspot-nya paling banyak ketua. Kemudian Kalimantan Tengah, selanjutnya Papua Selatan dan juga Kalimantan Timur," kata Ketua BMKG Teuku Faisal Fathani dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
BMKG memperkirakan minimnya pertumbuhan awan di sebagian besar wilayah Indonesia akan terus bertahan dalam sepuluh hari ke depan.
"Untuk potensi pertumbuhan awan hingga sepuluh hari ke depan ini kami sampaikan bahwa diperkirakan masih minim di sebagian besar Indonesia terutama Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Maluku, dan sebagian Papua," ujar Faisal.
Ancaman kemarau panjang diprediksi baru akan mereda saat memasuki fase transisi musim.
"Kalau dari prediksi BMKG Bapak Ketua mohon izin para anggota Komisi V, diperkirakan pada pertengahan Oktober musim hujan baru mulai datang Pak, pertengahan Oktober," tutur Faisal.
Guna memitigasi dampak kekeringan dan karhutla, pemerintah mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah kawasan strategis.
"Seluruh operasi modifikasi cuaca di bulan Agustus tidak hanya untuk kebakaran hutan dan lahan di Riau juga kami sampaikan juga ada operasi yang masih berlangsung kemudian untuk Jawa Barat ini untuk pengisian waduk dan juga di IKN untuk pengisian waduk Sepaku Semoi di sana yang juga mulai mengalami kekeringan," ujar Faisal.
Selain ancaman di darat, fenomena El Nino kuat ini berdampak buruk pada ekosistem perairan. Lonjakan suhu air laut memicu pemutihan karang (coral bleaching) di wilayah konservasi seperti Raja Ampat dan Maratua. Dampak iklim ini semakin diperparah oleh aktivitas manusia, termasuk insiden kapal terdampar di kawasan terumbu karang Maratua pada 19 Juni 2026 yang merusak ekosistem pesisir.
Dampak luas fenomena iklim ini turut menjadi perhatian pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto menegaskan kesiapan pemerintah dalam menanggulangi krisis cuaca tersebut.
"Kita akan mampu menghadapi tantangan-tantangan termasuk tantangan El Niño," kata Prabowo dalam Pidato Kenegaraan pada Jumat (14/8/2026).