Militer Amerika Serikat Serang Infrastruktur Utama Iran Selatan

Share

Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara mematikan yang menghantam bandara, stasiun kereta api di kota pelabuhan Bandar Abbas, serta dua jembatan di wilayah Iran selatan dekat Selat Hormuz pada Jumat, 17 Juli 2026, waktu setempat, seperti dilansir dari Detikcom.

Gempuran berturut-turut selama lima malam terakhir ini menyasar infrastruktur vital dan dilaporkan telah menimbulkan korban jiwa serta luka-luka di pihak warga sipil Iran.

Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi adanya beberapa ledakan di area penerbangan akibat serangan proyektil militer Amerika Serikat.

"Tiga ledakan terdengar di sekitar bandara dan setidaknya satu proyektil musuh Amerika menghantam bandara Iranshahr," kata televisi pemerintah IRIB di Telegram, dilansir AFP, Jumat (17/7/2026)

Selain fasilitas penerbangan, jalur transportasi darat dan kereta api di kota pelabuhan strategis juga tidak luput dari serangan bom tersebut.

"Beberapa menit yang lalu, Stasiun Persimpangan Kereta Api Bandar Abbas menjadi sasaran musuh Amerika. Menurut laporan ini, dua warga Iran terluka dalam serangan itu," kata Mehr di Telegram.

Laporan resmi pemerintah Iran yang mengutip kantor berita IRNA menambahkan dampak kerusakan struktural dan jatuhnya korban jiwa di Provinsi Hormozgan.

"Beberapa menit yang lalu, Stasiun Persimpangan Kereta Api Bandar Abbas menjadi sasaran musuh Amerika. Menurut laporan ini, dos warga Iran terluka dalam serangan itu," kata Mehr di Telegram.

Sebuah laporan resmi menyebutkan serangan udara di dua jembatan Provinsi Hormozgan dan mengutip IRNA yang mengatakan bahwa dua orang tewas dan empat lainnya terluka.

Pihak Komando Pusat Militer AS menegaskan bahwa operasi udara ini merupakan bagian dari strategi berkelanjutan untuk melumpuhkan kekuatan pertahanan lawan.

"Pada pukul 14.00 zona waktu timur hari ini, pasukan AS mulai melakukan gelombang serangan baru terhadap Iran untuk malam kelima berturut-turut untuk lebih melemahkan kemampuan militer Iran," kata CENTCOM dilansir Anadolu Agency, Jumat (17/7).

Ketegangan bersenjata ini mencuat di sekitar Selat Hormuz meskipun sebelumnya telah ada nota kesepahaman bermediasi Pakistan demi mengakhiri konflik kedua negara.

Pemerintah AS berdalih bahwa eskalasi militer terpaksa diambil menyusul tindakan sepihak dari pihak Iran di koridor laut internasional tersebut.

"Secara spesifik, dalam nota kesepahaman yang mereka tandatangani, mereka dilarang menembak kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz, dan sayangnya, mereka telah membuat keputusan tragis untuk melakukan hal itu," katanya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author