5 Metode Peneliti Bersihkan 6.000 Ton Sampah Antariksa

Share

Penanganan puluhan ribu objek tak terpakai di ruang hampa udara memerlukan pendekatan khusus karena tingginya kecepatan gerak di area tanpa gravitasi bumi. Peneliti terus menguji berbagai teknologi mutakhir guna mengamankan lintasan satelit dari ancaman bahaya tersebut.

Kawasan Low Earth Orbit (LEO) pada ketinggian 2.000 kilometer dari permukaan bumi kini menjadi lokasi penumpukan puing luar angkasa. Berdasarkan data NASA yang dilansir dari Detikcom, terdapat hampir 6.000 ton sampah yang melayang di area tersebut.

Ukurannya yang amat besar serta laju pergerakan yang sangat cepat berpotensi memicu Sindrom Kessler. Fenomena reaksi berantai ini timbul ketika tabrakan antarbenda menghasilkan serpihan baru yang meningkatkan risiko benturan susulan.

Puing di ruang angkasa berasal dari sisa komponen roket, satelit nonaktif, hingga pecahan pesawat luar angkasa. Peristiwa hancurnya pesawat Fengyun-1C asal Tiongkok pada 2007 dan insiden tabrakan satelit milik Amerika Serikat dengan Rusia pada 2009 tercatat memperbanyak jumlah serpihan.

Sebanyak 1,2 juta pecahan kecil diperkirakan masih mengancam keselamatan penerbangan luar angkasa. Seperti dikutip dari BBC Science Focus, terdapat lima cara alternatif yang dirancang para ilmuwan untuk membersihkan puing tersebut.

Peneliti asal Jerman merancang satelit khusus yang memanfaatkan material sintetis unik. Teknologi yang terinspirasi dari struktur kaki cicak ini memungkinkan permukaan satelit menempel langsung pada pecahan sampah yang melintas.

European Space Agency (ESA) mengembangkan lengan mekanis berbentuk tentakel untuk menangkap objek tanpa perlu kontak keras. Penggunaan robot ini bertujuan agar proses pembersihan orbit dapat dilakukan berulang kali sehingga menekan biaya operasional.

Tombak dan Meriam Laser

Metode penembakan menggunakan harpun berkecepatan 20 meter per detik turut menjadi opsi yang diuji. Meski telah sukses membentur target pada uji coba awal, tombak antariksa ini belum pernah diterapkan dalam skenario penangkapan sampah sebenarnya.

Ilmuwan Jepang pada 2015 mengusulkan pemasangan laser 500.000 watt pada satelit demi menembak puing di LEO agar dapat meluncur kembali ke bumi lebih cepat. NASA juga pernah meneliti instrumen serupa yang ditembakkan langsung dari permukaan bumi.

Laso Antariksa

Teknologi electrodynamic tether buatan peneliti Jepang memanfaatkan kabel konduktif sepanjang 700 meter yang dipasang pada satelit. Saat masa tugas satelit berakhir, kabel dipancarkan untuk bereaksi dengan medan magnet bumi lalu menarik pesawat menuju atmosfer hingga terbakar habis.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author