Metana Cair Gerakkan Siklus Cuaca dan Sungai di Titan

Share

Siklus cuaca di Titan, bulan terbesar planet Saturnus, digerakkan sepenuhnya oleh metana dan etana cair akibat suhu ekstrem yang mencapai minus 179 derajat Celsius, sebagaimana dilansir dari Detik iNET pada Rabu (29/7/2026).

Kondisi suhu yang sangat dingin tersebut menyebabkan air di permukaan Titan membeku keras hingga membentuk material penyusun kerak, bebatuan, serta pegunungan. Fenomena unik ini membuat siklus metana di Titan berjalan jauh lebih lambat dibanding siklus air di Bumi, dengan satu musim berlangsung lebih dari tujuh tahun Bumi.

Sebuah laporan SpaceDaily menjelaskan sifat perubahan wujud fisik zat di satelit alami tersebut.

"Pelajaran terbesarnya adalah 'cairan' bukanlah suatu zat tertentu, melainkan sebuah keadaan fisik. Jika suhu dan tekanannya berubah cukup jauh, maka zat yang mengalir pun ikut berubah," tulis laporan tersebut.

Sebagian besar lautan metana terpusat di wilayah kutub utara Titan, sementara daerah khatulistiwanya didominasi bukit pasir organik dan saluran sungai yang dialiri cairan saat terjadi badai besar. Selain cairan di permukaan, para ilmuwan menduga terdapat samudra bawah permukaan yang terdiri dari campuran air, garam, dan amonia di bawah lapisan es yang tebal.

Hingga saat ini belum ditemukan bukti keberadaan kehidupan di Titan. Kendati demikian, para ilmuwan menjadikan satelit alami tersebut sebagai laboratorium alami untuk mempelajari dinamika iklim dan kimia pada lingkungan yang berbeda dengan Bumi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author