Meta Merestrukturisasi Organisasi Global dan Memangkas 8000 Tenaga Kerja

Share

Perusahaan teknologi Meta Platforms Inc. meluncurkan reorganisasi besar-besaran secara global dengan merumahkan sekitar 8.000 karyawan dan mengalihkan 7.000 pekerja ke divisi kecerdasan buatan (AI) pada Rabu, 20 Mei 2026 pagi waktu setempat.

Langkah restrukturisasi massal yang menyasar tim rekayasa serta produk ini diambil untuk menekan biaya operasional sekaligus mendanai investasi masif perusahaan di sektor kecerdasan buatan.

Dilansir dari mediakompeten.co.id dan pdiperjuanganbali.id, pengurangan sekitar 8.000 posisi tersebut berdampak pada hampir 10 persen dari total 77.986 tenaga kerja global Meta.

Pemberitahuan pemutusan hubungan kerja (PHK) dikirimkan melalui surel secara bertahap sejak pukul 04.00 waktu setempat, dimulai dari pusat regional Asia di Singapura, lalu berlanjut ke wilayah Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat sesuai zona waktu masing-masing.

Di samping pemangkasan hubungan kerja, manajemen perusahaan juga menutup 6.000 lowongan pekerjaan terbuka yang tidak akan diisi kembali, di mana penataan ulang operasional ini menyentuh hampir satu dari lima karyawan jika PHK dan penempatan ulang digabungkan.

Sebagai bagian dari efisiensi biaya, Meta mengonsolidasikan tim ke dalam empat divisi baru dengan struktur kerja yang lebih ramping dan minim lapisan manajemen.

Kepala Sumber Daya Manusia Meta, Janelle Gale, menyampaikan memo internal mengenai pergeseran fokus kerja ini yang dikutip oleh pojokpapua.id dari Engadget melalui laporan antaranews.com.

"We’re now at the stage where many orgs can operate with a flatter structure with smaller teams of pods/cohorts that can move faster and with more ownership," kata Janelle Gale, Head of People Meta.

Manajemen Meta menjelaskan bahwa perubahan pola kerja kelompok kecil ini sengaja dirancang untuk meningkatkan efisiensi internal korporasi demi memacu produktivitas serta memberikan nilai lebih pada pekerjaan staf.

"We believe this will make us more productive and make the work more rewarding," tutur Janelle Gale, Head of People Meta.

Peralihan fokus teknis ini ditindaklanjuti oleh manajemen teknik dengan memindahkan para insinyur terpilih ke divisi infrastruktur komputasi awan AI dan tim agen AI internal berkode Hatch.

"Our work, infrastructure and our products are fundamentally changing as a result of the continued acceleration of AI," tulis Peter Hoose, Vice President of Production Engineering Meta.

Peter Hoose menilai bahwa kecepatan pembangunan sistem baru kecerdasan buatan yang belum pernah dihadapi sebelumnya tersebut menjadi tantangan utama yang harus dihadapi oleh perusahaan saat ini.

"The pace of what we are building is unprecedented, and these are exactly the kind of challenges that define what we do best," kata Peter Hoose, Vice President of Production Engineering Meta.

Namun, kebijakan sepihak Meta ini memicu kritik serta gelombang protes dari internal staf terkait rotasi kerja wajib serta penerapan alat pengawasan Model Capability Initiative (MCI) yang melacak pergerakan tetikus dan ketukan papan ketik untuk melatih kecerdasan buatan.

"Does ‘selected’ imply this is an [Applied AI]-style draft rather than a voluntary move?" tulis seorang Karyawan Meta.

Pihak manajemen kemudian memberikan pembelaan terkait pengumpulan data aktivitas perangkat keras komputer para staf tersebut melalui saluran komunikasi internal.

"If we’re building agents to help people complete everyday tasks using computers, our models need real examples of how people actually use them – things like mouse movements, clicking buttons and navigating dropdown menus. To help, we’re launching an internal tool that will capture these kinds of inputs on certain applications to help us train our models. There are safeguards in place to protect sensitive content, and the data is not used for any other purpose," ujar Juru Bicara Meta.

Kendati demikian, keresahan terus meluas hingga memicu lahirnya petisi penolakan pengumpulan data aktivitas perangkat yang ditandatangani lebih dari 500 karyawan di lima kantor Amerika Serikat.

"The new orgs showcase a shift in top level management strategy towards micro-authoritarianism," kata seorang Insinyur Meta.

Insinyur yang meminta identitasnya dirahasiakan tersebut menilai bahwa manajemen Meta saat ini tidak lagi memberdayakan karyawan melainkan mengedepankan budaya komando dalam menjalankan operasionalnya.

"No, we tell you what to do, and command and order is the way forward," ujar Insinyur Meta.

Ia mengungkapkan kekecewaannya atas rangkaian kebijakan manajemen, mulai dari pemangkasan fasilitas hingga ancaman PHK bergulir, yang telah meruntuhkan semangat kerja para staf secara bertubi-tubi dalam beberapa bulan terakhir.

"Small acts foreshadowed what was to come: rolling layoffs with months of uncertainty before confirmation, MCI, drafting … It feels like they are trying to defeat our spirit by landing multiple attacks at once," tutur Insinyur Meta.

Kondisi ini memicu kembalinya pergolakan internal pertama setelah para pekerja cenderung memilih bungkam sejak gelombang efisiensi massal Meta dimulai pada tahun 2022 lalu.

"Meta has an extreme culture of fear," kata seorang Ilmuwan Data Meta.

Kebijakan restrukturisasi ini menuai kontradiksi internal yang tajam karena dieksekusi tepat setelah Meta mencatatkan performa keuangan yang sangat kuat pada kuartal pertama 2026 dengan meraup laba bersih sebesar USD 26,8 miar dari total pendapatan sebesar USD 56,31 miliar berdasarkan data kuartal pertama yang dikutip dari Detik iNET oleh asatunews.co.id.

Laporan dari Wired yang dikutip asatunews.co.id menyebut situasi di dalam lingkungan kerja Facebook maupun Instagram menjadi sangat tidak kondusif akibat penurunan moral kerja.

"Semua orang merasa tidak bahagia, satu-satunya pihak yang tidak merasa demikian secara harfiah, hanyalah para eksekutif," sebut seorang pegawai Instagram.

Kondisi psikologis ini dirasakan langsung oleh staf Meta yang mengaku menghadapi dilema emosional berat mengenai masa depan keluarganya di tengah kompetisi industri teknologi yang semakin ketat.

"Bekerja di sini tidaklah mudah. Dari luar, ada sentimen negatif yang masif dan tentu ada alasannya. Namun, penderitaan bekerja di sini tidak terlalu dipahami dengan baik," kata seorang karyawan Meta secara anonim.

Menanggapi situasi tersebut, CEO Meta Mark Zuckerberg dalam pertemuan town hall terbaru memberikan penjelasan langsung bahwa keputusan berat ini merupakan konsekuensi langsung dari besarnya biaya pengadaan infrastruktur kecerdasan buatan.

Mark Zuckerberg juga tidak menutup kemungkinan adanya potensi pemangkasan hubungan kerja lanjutan pada paruh kedua tahun ini, di mana ketiadaan kejelasan mengenai daftar staf yang dipecat sempat memicu penurunan produktivitas akibat kecemasan finansial mendalam.

"Moral kerja akan merosot. Benar-benar tak ada cara untuk menghindarinya," kata Patrick McCue, Wakil Presiden di Right Management.

Penghematan biaya tenaga kerja ini diproyeksikan oleh Bank of America dapat menghasilkan 7 miliar hingga 8 miliar dolar AS secara tahunan.

Dilansir dari Bloomberg dan NBC, Chief Financial Officer Meta, Susan Li, mengonfirmasi bahwa perusahaan merevisi proyeksi belanja modal tahun 2026 menjadi berkisar antara US$125 miliar hingga US$145 miliar.

Anggaran masif ini dialokasikan untuk pengadaan komponen teknologi berbiaya tinggi, pembangunan pusat data, serta peningkatan kapasitas infrastruktur AI karena Meta harus bersaing ketat memperebutkan infrastruktur dengan kompetitor besar seperti Amazon, Alphabet, dan Microsoft.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author