Menkes Dorong Penguatan Karier Dokter Puskesmas Setara Spesialis

Share

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berupaya menghapus stigma profesi dokter puskesmas yang sering dianggap berada di bawah level dokter spesialis demi memperkuat sistem layanan kesehatan primer di Indonesia pada Senin (8/6/2026).

Kementerian Kesehatan menilai anggapan tersebut membuat banyak tenaga medis terbaik enggan bertahan di layanan tingkat pertama, seperti dilansir dari Detik Health. Pemerintah kini berfokus memberikan kepastian karier agar posisi dokter keluarga menjadi ujung tombak yang strategis.

"Di Indonesia yang unik, semua dokter ingin jadi dokter spesialis. Akibatnya dokter-dokter yang bagus itu nggak ada yang tinggal di puskesmas," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Kondisi ini memicu persepsi bahwa peluang karier di fasilitas kesehatan tingkat pertama jauh lebih terbatas dibandingkan dengan dokter yang bekerja di rumah sakit besar.

"Dokter yang tinggal di puskesmas yang pasrah, sudah tahu dia tidak mungkin jadi spesialis istilahnya. Ya kelasnya berbeda dengan dokter spesialis. Nah ini tidak benar," ujarnya.

Padahal, dokter di garda terdepan memiliki tanggung jawab besar untuk menyelesaikan persoalan kesehatan masyarakat sebelum pasien dirujuk.

"Kalau kita lihat di luar negeri, justru dokter-dokter yang di depan ini adalah dokter-dokter hebat karena mereka yang benar-benar bisa menyelesaikan masalahnya," kata dia.

Pemerintah menegaskan bahwa transformasi layanan primer menjadi pilar penting dalam reformasi sistem kesehatan nasional saat ini.

"Kita mesti memberikan kepastian karier bagi dokter di puskesmas agar mereka tidak merasa minder atau merasa kelas dua dibandingkan dengan dokter-dokter spesialis," ujar Budi.

Dalam upaya ini, Indonesia mempelajari sistem kesehatan di beberapa negara maju yang sukses menerapkan konsep dokter keluarga.

"Kita juga melakukan benchmarking di luar negeri. Belanda itu sangat terkenal bagaimana mereka melakukan transformasi family doctor dalam 20 tahun terakhir," katanya.

Selain Belanda, Singapura juga sedang mengarahkan pelayanan kesehatannya agar sebagian besar persoalan medis selesai di tingkat dasar.

"Singapura, Menteri Kesehatannya bilang sendiri ke saya, personally dokter spesialis buat orang Indonesia saja deh, tapi nanti Singapura harusnya semuanya selesai di family doctor," sorot Budi.

Langkah penataan kompetensi ini diharapkan mampu menekan penumpukan pasien di fasilitas kesehatan lanjutan atau dokter spesialis.

"Jadi benar-benar tren di dunia adalah wewenang dan kompetensi itu diturunkan ke bawah, ke layanan family care. Sehingga spesialis itu hanya mengambil kasus-kasus yang sangat rumit," jelasnya.

Berdasarkan data internal kementerian, saat ini terdapat kesenjangan besar karena 99,2 persen puskesmas di tanah air masih kekurangan dokter spesialisasi layanan primer.

"Kita melihat Belanda yang sudah berhasil melakukan transformasi ini, Singapura juga sekarang sedang dalam proses, negara-negara yang lain juga sudah banyak masuk. Kita gap-nya masih cukup besar," katanya.

Guna mengejar ketertinggalan, pemerintah pusat berencana melengkapi seluruh pusat kesehatan masyarakat dengan kompetensi dasar medis yang mumpuni.

"Indonesia ingin lebih agresif lagi meloncat sama dengan benchmark yang ada di dunia, dan kita berencana melengkapi seluruh puskesmas dengan dokter spesialis dasar," pungkas Budi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author