Meksiko Bersiap Hadapi Korea Selatan Demi Tiket Babak 32 Besar

Share

Tim nasional Meksiko bersiap menghadapi Korea Selatan dalam laga kedua Grup A Piala Dunia 2026 di Stadion Guadalajara pada Kamis, 18 Juni 2026, demi memperebutkan tiket lolos ke babak 32 besar.

Kedua tim mengantongi modal positif setelah Meksiko mengalahkan Afrika Selatan dan Korea Selatan menundukkan Republik Ceko pada laga pembuka. Kemenangan dalam laga ini akan memastikan salah satu tim melaju ke fase gugur dengan menyisakan satu pertandingan.

Kiper Meksiko Raúl Rangel mengenang keyakinannya di masa lalu untuk bisa menembus skuad utama El Tri di ajang bergengsi ini.

"I told everyone, ‘I see myself at the World Cup.’ Some people laughed," kata Rangel, dilansir dari Los Angeles Times.

Penjaga gawang berusia 26 tahun tersebut menambahkan bahwa dirinya sudah memimpikan momen ini sejak lama sebelum melakukan debut profesional.

"I’d been picturing myself on the national team for three years." ujar Rangel.

Meksiko mengincar kemenangan demi mengamankan status juara grup agar bisa memainkan laga fase gugur di Stadion Azteca, tempat mereka belum pernah kalah dalam sejarah Piala Dunia. Rangel menyoroti pentingnya faktor mental bagi tim tuan rumah untuk meraih pencapaian tertinggi.

"I think that mental aspect has been missing for us. We have to believe that we can achieve great things," ucap Rangel.

Ia juga menegaskan tanggung jawab besar yang dipikul oleh seluruh penggawa timnas Meksiko yang bertindak sebagai salah satu tuan rumah turnamen.

"I truly believe I’m going to be a champion with Mexico. We have a responsibility as hosts." tutur Rangel.

Pelatih Javier Aguirre mengakui adanya tekanan emosional yang dirasakan anak asuhnya pada pertandingan pertama. Gelandang Erik Lira mengungkapkan perasaan yang sempat melanda tim saat melakoni laga pembuka di Stadion Azteca.

"Yes, there was a bit of nervousness, a bit of fear," aku Lira.

Pernyataan tersebut senada dengan bek Israel Reyes yang menilai kemenangan perdana membantu meredakan ketegangan internal tim.

"We need to be more decisive; the win has calmed the nerves we’ve had over the last few days," sebut Reyes.

Di kubu lawan, Korea Selatan datang dengan membawa kepercayaan diri tinggi setelah sempat tertinggal sebelum akhirnya membalikkan kedudukan melawan Republik Ceko. Gelandang Hwang In-beom memuji atmosfer dukungan penonton di Guadalajara yang terasa sangat akrab.

"It was like playing a game in Seoul," ungkap Hwang.

Pemain asal klub Feyenoord tersebut juga menegaskan kesiapan timnya untuk menghadapi kekuatan fisik dan tekanan konstan dari tim tuan rumah.

"[Mexico] is a good team, but, as you’ve just seen, we can take on anyone," kata Hwang.

Di luar taktik lapangan, pertandingan ini diwarnai oleh kehangatan hubungan antara kedua kelompok suporter yang telah terjalin sejak Piala Dunia 2018 di Rusia. Penggemar sepak bola dari kedua negara kerap menyanyikan yel-yel kebersamaan.

"Coreano, hermano ya eres Mexicano," menjadi frasa populer yang kembali menggema di media sosial.

Pendukung Meksiko bernama Fernando Delgado berharap laga sengit nanti berakhir tanpa ada pihak yang kecewa.

"A draw would be the ideal case," tutur Delgado kepada NPR.

Ia merasa hasil imbang adalah jalan terbaik untuk menjaga keharmonisan hubungan emosional kedua suporter.

"Because I think other than that, it's gonna be like, 'Oh man.'" lanjut Delgado.

Sahabatnya, Josh Lee, menilai fenomena persaudaraan suporter ini bertahan lama dan mempererat hubungan kebudayaan kedua bangsa.

"Since then, this idea of Coreano Hermano has really persisted," kata Lee.

Ia melihat hubungan baik ini membawa dampak positif yang meluas melampaui batas arena olahraga.

"led to this greater appreciation for both national teams and both peoples." tambah Lee.

Kenangan manis persahabatan tersebut bermula ketika Korea Selatan mengalahkan Jerman di fase grup Piala Dunia 2018, yang secara otomatis meloloskan Meksiko. Ray An, seorang suporter Korea-Amerika, mengingat momen emosional saat dirinya dirayakan oleh warga Meksiko di Rusia.

"This is so much more than football. This is just so much more than winning and losing," kenang An.

Baginya, sepak bola telah menjadi sarana interaksi yang kuat dalam membangun memori indah antarbudaya.

"This is what it's really about, right? Creating core memories with strangers in a foreign land." ujar An.

Meskipun negaranya gagal melangkah lebih jauh pada edisi tersebut, ia memandang momen kebersamaan itu memiliki nilai historis yang mendalam.

"Looking back, I mean maybe in the long run, this is actually a better thing for us to have happened," ucap An.

Hubungan erat ini juga didukung oleh status kedua tim yang kerap dianggap sebagai tim kuda hitam di kancah sepak bola internasional. Suporter lainnya, Jean Lim Flores, menyoroti rekam jejak kedua negara yang sudah lama tidak menembus babak perempat final.

"Neither of our countries have won the World Cup," kata Lim Flores.

Ia menyatakan akan tetap gembira terlepas dari tim mana yang keluar sebagai pemenang dalam pertandingan nanti.

"It would be exciting to see either Korea or Mexico win." lanjut Lim Flores.

Sementara itu, suaminya yang merupakan warga Meksiko-Amerika, Shon Flores, melihat rivalitas kedua tim tidak sepanas rivalitas geografis masing-masing.

"I can see a lot of this coming together and closeness between some of the other teams, but I don't know about U.S. vs. Mexico," kata Flores.

Konsul Jenderal Meksiko di Los Angeles, Carlos González Gutiérrez, bahkan melakukan taruhan persahabatan dengan Konsul Jenderal Korea Selatan, Youngwan Kim, berupa sebotol tequila atau soju sebagai simbol kedekatan diplomatik.

"This is a sign of friendship between our two countries," kata González Gutiérrez.

Diplomat tersebut memandang pertandingan ini sebagai cerminan dari interaksi erat komunitas kedua negara di dunia nyata.

"reflection of what already" pungkas González Gutiérrez.

Pertandingan pembuktian di Grup A ini dijadwalkan dipimpin oleh wasit Gustavo Tejera asal Uruguay.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author