MD Pictures Remake Children of Heaven Versi Indonesia

Share

Film legendaris asal Iran karya sutradara Majid Majidi yang berjudul Children of Heaven resmi diproduksi ulang oleh MD Pictures. Dalam versi Indonesia, film ini digarap langsung oleh sutradara Hanung Bramantyo, seperti dilansir dari Detikcom.

Kisah sinema ini berfokus pada kehidupan kakak beradik bernama Ali yang diperankan oleh Jared Ali dan Zahra yang dimainkan oleh Humaira Jahra. Mereka diceritakan menetap di kawasan pinggiran kali Semarang dengan latar waktu tahun 1988.

Keluarga tersebut berada dalam kondisi ekonomi yang sangat miskin. Sang ayah, Karim yang diperankan Andri Mashadi, bekerja sebagai buruh serabutan dan terlilit banyak utang, sementara ibunya, Fatimah yang diperankan Faradina Mufti, sedang sakit-sakitan sambil mengasuh bayi mereka.

Konflik utama dimulai ketika Ali tidak sengaja menghilangkan satu-satunya sepatu sekolah milik Zahra. Karena tidak berani meminta sepatu baru kepada ayah mereka yang sedang kesulitan, kakak beradik ini sepakat untuk memakai sepatu milik Ali secara bergantian.

Zahra harus segera berlari pulang setelah jam sekolah usai agar sepatunya bisa langsung dipakai oleh kakaknya. Di sisi lain, Ali juga harus berlari kencang menuju sekolah supaya tidak mendapat hukuman akibat terlambat masuk kelas.

Harapan untuk keluar dari situasi sulit tersebut muncul saat diadakan lomba lari marathon yang menyediakan hadiah sepasang sepatu baru. Ali langsung mendaftarkan diri demi memenangkan sepatu tersebut untuk adik perempuannya.

Kehadiran adaptasi ini awalnya memicu kombinasi rasa nostalgia sekaligus kekhawatiran dari kalangan penonton yang menggemari versi aslinya era 90-an. Muncul kecemasan bahwa proyek remake ini akan dieksekusi secara kurang matang.

Namun, arahan sutradara Hanung Bramantyo berhasil mempertahankan premis utama tanpa melenceng jauh dari fondasi cerita aslinya. Penonton tetap disuguhkan narasi emosional mengenai perjuangan Ali dan Zahra.

Gambaran kemiskinan dan keterbatasan ekonomi ditampilkan secara pas dengan atmosfer Semarang tempo dulu tanpa kesan meromantisasi keadaan. Salah satu momen yang memperlihatkan kedua tokoh mencuci sepatu di tepi sungai mampu menghadirkan kesan nostalgia yang kuat.

Meski demikian, terdapat beberapa detail vintage bernuansa tahun 80-an yang dirasa kurang akurat bagi penonton yang jeli karena masih memperlihatkan elemen visual yang terlalu modern.

Dari segi penulisan cerita, versi Indonesia ini tidak sekadar menyajikan drama kesedihan seperti film orisinalnya. Hanung menyisipkan unsur komedi situasi untuk mengimbangi jalannya narasi.

Elemen jenaka tersebut dihadirkan lewat penampilan para komika ternama seperti Muhadkly Acho, Oki Rengga, dan Dodit Mulyanto yang membuat atmosfer film terasa lebih cair.

Aspek produksi film ini juga terbantu oleh pemanfaatan teknologi modern. Visualisasi adegan lomba lari kini tampak lebih megah dan dramatis berkat penggunaan kamera drone, berbeda dengan versi pendahulunya yang sangat sederhana.

Secara keseluruhan, adaptasi ini tetap menjaga integritas cerita asli yang diselaraskan dengan budaya lokal Indonesia. Pesan mengenai kekuatan mimpi, kerja keras, serta pengorbanan disampaikan melalui dinamika cerita yang menghibur.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author