McLaren Andra ST Terbelah Dua Usai Alami Kecelakaan di Sukoharjo
Mobil supercar McLaren milik Youtuber Andra ST mengalami kecelakaan parah di simpang Telukan, Jalan Ciu, Sukoharjo, saat hendak menuju Solo. Rekaman video detik-detik sebelum insiden tersebut beredar luas di media sosial, seperti dilansir dari Detik Oto.
Sebelum benturan terjadi, kendaraan mewah berwarna kuning tersebut tampak menyalip dari sisi kiri jalan. Namun, ketika mencoba kembali ke lajur kanan, mobil mengalami selip dan langsung oleng kehilangan kendali.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Sukoharjo, Iptu Ardian, membenarkan bahwa video yang beredar merupakan momen tepat sebelum peristiwa naas itu terjadi. Ia menjelaskan bahwa insiden dipicu oleh ketidakmampuan pengemudi mengontrol kendaraan.
"Setelah kena lampu merah di simpang Telukan (Jalan Ciu), lalu berjalan dan terjadi selip, bannya selip. Pengemudi tidak bisa menguasai laju kendaraannya sehingga oleng ke kiri kemudian menabrak tiang," jelas Ardian.
Kendaraan tersebut menghantam pagar, tiang telepon, serta tiang listrik secara berurutan. Kuatnya dampak tabrakan mengakibatkan bodi mobil mengalami kerusakan luar biasa hingga terbelah menjadi dua bagian.
Pemeriksaan awal kepolisian menunjukkan kecepatan mobil saat itu masih berada di bawah angka 100 km/jam. Hal tersebut juga selaras dengan pengakuan dari Andra ST selaku pengemudi.
"Kalau menurut keterangan (pengemudi) tidak terlalu kencang, mungkin masih kecepatan di bawah 100 km/jam," kata Ardian.
Menanggapi peristiwa ini, Instruktur Keselamatan Berkendara Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), Jusri Pulubuhu, memberikan pandangan mengenai aspek teknis mengemudikan kendaraan berspesifikasi tinggi.
Jusri mengingatkan bahwa dorongan untuk memacu supercar memang sangat besar. Kendati demikian, karakteristik mobil tipe ini sangat berbeda dengan kendaraan roda empat pada umumnya.
Terdapat tiga kompetensi dasar yang wajib dipahami pemilik supercar demi menjaga keselamatan di jalan raya. Tiga poin utama tersebut mencakup pemahaman mendalam tentang limpahan tenaga, sistem pengereman, dan performa pengendalian.
"Mobil-mobil ini handling-nya beda dengan mobil biasa, input kita sedikit, outputnya besar. Tapi konyol, mobil-mobil ini tidak selincah mobil-mobil biasa saat kita u-turn, steering input sedikit saja butuh beberapa kali putaran. Artinya kita tidak bisa fleksibel," terang Jusri.