Matt Freese Menjadi Kiper Utama Timnas AS pada Piala Dunia 2026
Kiper New York City FC Matt Freese berhasil menembus skuad utama dan menjadi penjaga gawang nomor satu tim nasional Amerika Serikat pada gelaran Piala Dunia 2026 setelah sempat menolak kontrak dari klub raksasa Inggris Manchester United.
Dilansir dari Manchester Evening News, penjaga gawang berusia 27 tahun tersebut menjadi sosok penenang di bawah mistar gawang Amerika Serikat yang dilatih oleh Mauricio Pochettino. AS sukses mengamankan tiket ke babak 32 besar sebagai juara Grup D setelah meraih kemenangan meyakinkan atas Paraguay dengan skor 4-1 dan Australia dengan skor 2-0, sebelum menghadapi laga terakhir grup melawan Turki.
Keputusan Freese untuk menolak tawaran magang dari Manchester United saat masih berada di akademi Philadelphia Union didasari oleh prioritas pendidikan yang ditekankan oleh kedua orang tuanya. Pemain kelahiran Wayne, Pennsylvania itu akhirnya memilih kuliah di Harvard University untuk belajar ilmu ekonomi sambil bermain sepak bola di tingkat perguruan tinggi.
"It was largely a family decision," kata Freese kepada Hudson River Blue.
Meskipun tawaran dari klub Premier League sangat menggiurkan, diskusi mendalam bersama keluarga membuat Freese menghormati keputusan orang tuanya demi masa depan akademis yang stabil.
"There was a clear path that I wanted to go on, but I had to respect what they wanted. They sacrificed so much for me, so I had to repay that and honour what they wanted and then, when the time was right, make my decision for myself," ujar Freese.
Kiper bertinggi badan tegap ini kemudian memilih meninggalkan universitas setahun lebih awal untuk bergabung dengan klub masa kecilnya, Philadelphia Union, sebagai pemain binaan lokal menjelang musim MLS 2019. Ia tetap melanjutkan kuliahnya secara daring dan berhasil lulus meraih gelar sarjana ekonomi dari Harvard pada tahun 2022.
"It was very clear to me that in order to have the career I wanted to have on the field and to achieve things that I wanted to achieve on the field, the earlier my career could start, the better. It was a pretty natural decision – everyone was on the same page," ucap Freese.
Menurut laporan talkSPORT, Freese tercatat memimpin Ivy League dalam hal penyelamatan per pertandingan dengan rata-rata enam penyelamatan pada musim 2018. Namun, ia hanya tampil 16 kali di tim senior dalam empat musim bersama Philadelphia Union karena menjadi pelapis dari Andre Blake yang merupakan peraih tiga kali penghargaan MLS Goalkeeper of the Year.
“I think it was actually probably the best thing that could have happened for me,” kata Freese.
Situasi tersebut justru dinilai positif oleh Freese karena menuntutnya untuk selalu bekerja keras dan menjaga sikap rendah hati di dalam maupun luar lapangan pertandingan profesional.
“I think if I was thrown immediately into a starting position, it could have been very different. When that happens, sometimes you lose a level of humility that I was forced to have, not only for four years there, but because that humility was entrenched so deeply into me during that time, and it’s something that I’m planning on keeping with me throughout my entire playing career,” tutur Freese.
Freese sempat bermain dalam 31 pertandingan tambahan untuk Philadelphia Union II sebelum akhirnya ditransfer ke New York City FC pada tahun 2023 dengan biaya 350.000 dolar AS. Musim 2024 menjadi momen pembuktian dirinya saat ia bertengger di peringkat ketiga MLS dengan 135 penyelamatan, mencatat persentase penyelamatan 73,4 persen, dan menggondol penghargaan MVP klub.
Performa gemilang di klub membuat Mauricio Pochettino memanggilnya ke tim nasional pada Januari 2025, disusul laga debutnya pada Juni 2025 menjelang ajang CONCACAF Gold Cup.
“It was still so early on for me; it wasn’t frustrating,” kata Freese mengenai keterlambatan pemanggilan pertamanya oleh Pochettino.
Pemain berusia 27 tahun tersebut mengaku tidak frustrasi dan justru terus termotivasi karena sadar harus menunjukkan konsistensi permainan dalam sampel pertandingan yang lebih besar di kompetisi domestik.
“It kept me hungry, but I didn’t need that to keep me hungry because I’m someone that will always be hungry no matter what. … As far as MLS, it’s kinda similar. You need a name for yourself before MLS starts to notice you; that’s just the reality.
National team, that was a goal of mine. I knew I was doing it, but I had to do it for a longer period of time — the sample size had to be larger to get really noticed,” jelas Freese.
Debut impian bersama tim nasional senior Amerika Serikat akhirnya terwujud dan menjadi kebanggaan besar bagi keluarga serta orang-orang terdekat yang mendukung karier sepak bolanya.
“It was awesome, it was something I had been dreaming about for a very long time,” kenang Freese saat mengenakan seragam timnas untuk pertama kali.
Bagi Freese, kesempatan membela negara adalah sebuah penghargaan tertinggi yang tidak boleh disia-siakan dan harus dimaksimalkan dengan baik.
“It was such an amazing honor — every time you get to represent your country is a huge honor. It was something I had been working very hard for, and not just me, but many people who are close to me and have invested in my soccer career, and I think that was also a reward for them,” tambah Freese.
Ia menegaskan sejak awal bahwa target utamanya bukan sekadar mencicipi satu pertandingan saja bersama tim nasional, melainkan mengamankan posisi utama secara berkelanjutan.
“My goal was never to play one game for the national team,” kata Freese.
Ambisi tersebut dibuktikannya dengan performa solid di bawah mistar gawang hingga berhasil menggeser nama-nama senior seperti Matt Turner dan Chris Brady dalam skuad Piala Dunia 2026.
“It doesn’t mean it wasn’t an honor and super exciting, but I didn’t step into the summer and say ‘I just want to get one game’ that was never the goal and never the ambition. The ambition is to maximize my opportunities as much as I can,” pungkas Freese.
Berdasarkan analisis dalam siniar Yahoo Sports, Freese sejauh ini belum mendapat banyak ancaman serius dari lini depan Paraguay maupun Australia karena barisan pertahanan AS tampil sangat solid. Mantan pelatih Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, kini dihadapkan pada tantangan untuk menjaga ketajaman serta kesiapan mental sang penjaga gawang utama menjelang laga krusial di babak 32 besar menghadapi Bosnia & Herzegovina.