Mata Uang Negara Berkembang Anjlok Akibat Laporan Tenaga Kerja AS

Share

Mata uang dan saham di berbagai negara berkembang mengalami kemerosotan tajam pada Jumat, 6 Juni 2026, setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat mencatat pertumbuhan luar biasa yang memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

Data non-pertanian AS bulan lalu melonjak sebanyak 172.000, melampaui semua proyeksi pasar, sementara tingkat pengangguran bertahan di angka 4,3 persen, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Kondisi ini memicu penurunan indeks mata uang negara berkembang MSCI hingga 0,6 persen, yang sekaligus menandai pelemahan selama empat sesi berturut-turut.

Ekonom Amerika di Standard Chartered Bank memberikan analisis mengenai dampak penguatan ekonomi Amerika Serikat ini terhadap pasar internasional.

"Kenaikan suku bunga AS dan penguatan dolar AS telah berdampak negatif pada kinerja pasar emerging market." ujar Dan Pan, ekonom Amerika di Standard Chartered Bank.

Di sisi lain, rupee India menjadi satu-satunya mata uang yang menguat sebesar 0,9 persen setelah pemerintah dan bank sentral meluncurkan paket stimulus besar untuk menahan kejatuhan mata uang tersebut.

Sementara itu, indeks saham pasar negara berkembang merosot 2,4 persen selama tiga hari beruntun, dipimpin oleh penurunan sektor teknologi AI Asia akibat proyeksi suram dari Broadcom Inc.

Kepala strategi investasi memberikan pandangan terkait jatuhnya saham-saham teknologi yang dipicu oleh ekspektasi pasar yang terlalu tinggi.

"Broadcom menjadi pemicu yang mengingatkan pasar betapa tinggi ekspektasi yang telah terbentuk," kata Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets.

Investor dinilai telah memperhitungkan pertumbuhan AI secara sempurna, sehingga perubahan kecil menimbulkan koreksi tajam di pasar saham pasar berkembang.

"Investor telah memperhitungkan banyak hal yang sempurna seputar AI, sehingga kekecewaan sekecil apa pun dapat menyebabkan koreksi yang cukup tajam." ujar Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets.

Di Brasil, indeks saham acuan mencatat rekor kerugian mingguan terpanjang sejak 1989, disertai lonjakan swap suku bunga dan pelemahan mata uang ke level terendah dalam dua bulan.

Kondisi pasar global semakin diperparah oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah bentrokan bersenjata terjadi antara Hizbullah dan Israel di Lebanon Selatan.

Amerika Serikat dan Iran masih belum mencapai kesepakatan gencatan senjata saat konflik mendekati hari ke-100, ditambah klaim Teheran atas kedaulatan Selat Hormuz.

Pihak Iran menegaskan bahwa pemulihan aset mereka yang dibekukan menjadi syarat utama dalam negosiasi yang sedang berlangsung dengan pemerintah AS saat ini.

"bola kini ada di tangan Trump" kata seorang penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei kepada CNN.

Iran menuntut pencairan aset senilai $24 miliar yang dibekukan sebelum menyepakati usulan perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author