Mantan Pegawai Microsoft Italia Ungkap Dugaan Bantuan Intelijen ke Israel
Seorang mantan teknisi Microsoft Italia bernama panggilan Nour memutuskan mengundurkan diri setelah mengungkap dugaan bahwa perusahaan tersebut membantu militer Israel melakukan pengintaian massal dan persenjataan digital terhadap warga Palestina, seperti dilansir dari Detik iNET pada Jumat (3/7/2026). Kabar yang pertama kali diberitakan oleh media Inggris The Canary ini mencuat setelah Nour mengirimkan pesan elektronik massal ke ribuan karyawan Microsoft untuk membongkar perluasan pusat data Eropa sebagai laboratorium eksperimen. Mantan pekerja tersebut menjelaskan bahwa infrastruktur pusat data di Eropa menjadi komponen penting dalam mendukung aktivitas militer di wilayah konflik selama 994 hari terakhir.
"Setelah 2 tahun menjadi Teknisi Lingkungan Kritis di data center Microsoft Italia, saya memilih berhenti. Ini karena saat ini Microsoft memperluas data center Eropa (alias pusat pemantauan massal) untuk menggunakan Palestina sebagai laboratorium percobaan persenjataan digital," kata Nour dalam emailnya.
Nour kemudian memaparkan laporan dari Agustus tahun lalu mengenai pengumpulan data telepon ilegal dalam jumlah besar yang disimpan pada pusat data Microsoft di Belanda dan Irlandia. "Itu adalah koleksi data pengintaian paling besar sedunia terhadap satu kelompok populasi," kata dia.
Data pengintaian tersebut disinyalir digunakan oleh militer Israel untuk menentukan target serangan udara, penahanan, hingga melatih program kecerdasan buatan (AI) guna melegitimasi operasi militer di pemukiman sipil. Nour menuduh manajemen Microsoft melakukan investigasi internal formalitas semata untuk membersihkan nama perusahaan, sembari bekerja sama memindahkan data dari server Belanda untuk menghindari deteksi.
Selain itu, terdapat aplikasi khusus yang dipasang di ponsel warga Palestina yang terhubung langsung ke pusat data Irlandia, yang memfasilitasi sistem pemantauan massal dan pelanggaran privasi total. Melalui pesan tersebut, Nour juga menyoroti kontradiksi moral perusahaan yang menggunakan sumber daya energi tinggi untuk mendukung mesin perang, sekaligus mengingatkan keberhasilan kampanye karyawan terdahulu bernama No Azure for Apartheid (NOAA) yang sempat memutus kontrak dengan Unit 8200 intelijen Israel. "Bebaskan Palestina," tutup Nour dalam emailnya yang menghebohkan itu.