Mantan Engineer xAI Gugat Perusahaan Terkait Keamanan Chatbot Grok
Seorang mantan engineer kecerdasan buatan di xAI bernama Devin Kim mengajukan gugatan hukum terhadap perusahaan milik Elon Musk tersebut di pengadilan negara bagian California, Amerika Serikat, pada Jumat, 12 Juni 2026, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Gugatan dilayangkan karena Kim merasa dipecat secara tidak adil pada September 2025 setelah menyuarakan kekhawatiran terkait sistem keamanan chatbot Grok yang dinilai tidak diprioritaskan oleh perusahaan.
Sebelum dipecat menjelang presentasi kepada pimpinan xAI, Kim menemukan bahwa Grok cenderung mendiskriminasi kelompok ras tertentu dan berisiko memberikan panduan pembuatan bom serta senjata biologis kepada pengguna.
Langkah hukum ini diambil setelah Grok sempat memicu kontroversi akibat penyalahgunaan manipulasi digital gambar tanpa pakaian, yang berujung pada pembatasan regulator Eropa dan gugatan dari konsumen termasuk influencer Ashley St. Clair.
Pihak manajemen xAI sendiri menyatakan telah menonaktifkan kemampuan pembuatan gambar sensual tersebut sejak Januari demi menjaga keamanan platform X.
Pengacara Devin Kim menegaskan bahwa kliennya melihat pengabaian prosedur mitigasi risiko di perusahaan tersebut sebagai bentuk pelanggaran hukum.
"Saudara Kim meyakini bahwa pengabaian xAI terhadap keamanan AI merupakan tindakan yang melanggar hukum," kata pengacara Devin Kim.
Tim hukum juga mengaitkan protes kliennya dengan rentetan skandal penyalahgunaan model kecerdasan buatan Grok yang akhirnya benar-benar terjadi di masyarakat.
"kekhawatiran saudara Kim pada model xAI tidak hanya beralasan kuat, tetapi juga terbukti sangat jitu," kata pengacara Devin Kim.
Gugatan ini turut menyeret SpaceX selaku induk perusahaan yang sedang mempersiapkan penawaran umum perdana (IPO), di mana unit xAI menjadi komoditas utama yang dipromosikan Elon Musk kepada investor.
Dalam dokumen gugatan, Kim menyebut salah satu pendiri xAI, Jimmy Ba, mengabaikan laporan tertulis dan arahan keamanan dari Musk sebelum akhirnya memecat dirinya.
"AI akan membunuh kita semua juga," kata Jimmy Ba, mantan pendiri xAI.
Jimmy Ba sendiri telah keluar dari perusahaan pada Februari setelah merger dengan SpaceX, menyusul hengkangnya mayoritas anggota pendiri dan puluhan insinyur xAI yang kini posisinya digantikan oleh staf Starlink.