Bedah Makna Lirik Lagu Sesi Potret Kolaborasi enau dan Ari Lesmana

Share

Kolaborasi musik antara enau dan Ari Lesmana dalam lagu Sesi Potret menghadirkan refleksi tajam mengenai dinamika kehidupan nyata, seperti dilansir dari Detikcom. Karya ini mengulas secara mendalam tentang penyesalan, urgensi waktu, dan kepedihan akibat kehilangan melalui untaian lirik yang sederhana namun puitis. Lirik pada bagian awal menggambarkan ironi kehidupan perantau yang kerap menunda kepulangan karena merasa pencapaian finansialnya belum memadai.

"Tahun lalu berjuta alasanku / Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan / Kali ini sudah lumayan… Dan tahun ini kubisa pulang"

Fenomena hustle culture membuat materi dan karier sering kali menjadi prioritas utama, sehingga waktu bersama keluarga dikesampingkan demi mengejar kesuksesan finansial.

Metafora Rumah Baru yang Menyayat Hati

Makna kata pulang berubah menjadi tragis saat kepulangan anak rantau justru disambut oleh kepergian selamanya dari orang yang dicintai.

"Tapi anehnya bukan kau yang menyambutku / Oh ternyata kau yang lebih dulu pulang / Ku bertamu ke rumah barumu / Hanya papan dan namamu"

Penggunaan metafora rumah baru yang merujuk pada liang lahad dan batu nisan menggambarkan situasi hampa ketika kesuksesan diraih saat orang tua telah tiada.

Kerinduan pada Rutinitas Kecil yang Hilang

Momen-momen sederhana yang dahulu dianggap biasa atau bahkan menjengkelkan kini berubah menjadi memori yang paling dirindukan.

"Sesi potret yang selalu ku benci / Aneh rasanya kau tak di sini / Susunan barisannya tak sama lagi… Mana ocehan wewangian khasmu"

Ketidaksempurnaan formasi dalam foto keluarga serta hilangnya aroma khas dan nasihat orang tua menjadi pengingat pilu akan ketidakhadiran mereka.

Tembok Gengsi dan Penyesalan yang Terlambat

Ungkapan kasih sayang atau permohonan maaf sering kali tertahan oleh ego dan gengsi yang kerap membelenggu hubungan keluarga.

"Sesal hatiku tak sempat temani kamu / Harusnya kubisikan kata ajaib ke telingamu / Gengsi menyelimutiku"

Kebiasaan menunda untuk menyatakan perasaan kepada orang tua membuat kesempatan tersebut hilang selamanya ketika kematian mendahului.

Ketidakberdayaan Manusia dalam Mengikhlaskan Kehilangan

Menerima kematian sebagai sebuah keniscayaan rupanya tetap menempatkan manusia sebagai sosok amatir yang kesulitan menghadapi kedukaan.

"Soal ikhlas ternyata aku masih amatir / Jarak ini terlalu jauh / Kalau rindu aku tak mampu"

Jarak antara dunia dan akhirat memvalidasi rasa duka mendalam yang dirasakan oleh siapapun yang berproses dalam merelakan kepergian orang tersayang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author