Mahasiswa Universitas Mataram Sabet Penghargaan Apple Swift Student Challenge 2026

Share

Seorang developer muda asal Indonesia berhasil mengukir prestasi gemilang di tingkat internasional. Ali An Nuur, mahasiswa Universitas Mataram, sukses terpilih sebagai salah satu pemenang ajang Swift Student Challenge 2026 yang diselenggarakan oleh perusahaan teknologi Apple melalui aplikasinya yang bernama Nuramma.

Aplikasi inovatif ini dirancang bukan sekadar sebagai proyek teknologi biasa, melainkan lahir dari sebuah pengalaman personal. Dilansir dari Detik iNET, Ali terinspirasi dari masa kecilnya yang mengalami kesulitan menemukan orang untuk menyimak hafalan Al-Qur'an.

"Alhamdulillah, perasaan pertama yang muncul adalah rasa syukur yang luar biasa dan sedikit tidak percaya," ujar Ali kepada detikINET.

Ide pembuatan Nuramma berakar dari keresahan pribadi Ali ketika menempuh pendidikan sekolah dasar di Maluk, Sumbawa. Kala itu, gairahnya untuk menghafal Al-Qur'an terhambat oleh kesibukan kerja orang tuanya yang tidak bisa selalu mendampingi proses menyimak hafalan di rumah.

"Aku harus melakukannya sendiri, membaca, mengulang, dan berharap bacaanku sudah benar tanpa ada konfirmasi dari siapa pun," katanya.

Kondisi serupa kembali disaksikan Ali pada kedua keponakannya di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Karena kesibukan orang tua, kedua anak yang sedang menghafal Juz 30 tersebut sering belajar mandiri hingga memicu perselisihan akibat merasa hafalan masing-masing yang paling tepat.

Berangkat dari fenomena tersebut, Ali mengembangkan Nuramma sebagai platform pembelajaran Al-Qur'an yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Perangkat lunak ini didesain khusus untuk menjadi pendamping belajar virtual yang interaktif bagi anak-anak.

Inovasi utama dari Nuramma terletak pada fitur pengenal suara berbasis kecerdasan buatan (AI-powered speech recognition). Teknologi ini bertugas untuk menyimak pelafalan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh anak secara langsung.

Sistem ini mengadopsi metode kerja layaknya seorang guru mengaji virtual. Pengguna cukup melafalkan ayat ke arah mikrofon perangkat, kemudian kecerdasan buatan akan menganalisis kecocokan kata per kata dan memunculkan umpan balik instan pada layar digital.

Setiap kata yang dilafalkan dengan benar akan ditandai dengan perubahan warna hijau secara otomatis. Mekanisme ini mempermudah anak-anak dalam memantau perkembangan dan kualitas bacaan mereka secara mandiri.

Kendati demikian, proses perancangan sistem pengenal suara tersebut menghadapi hambatan teknis yang signifikan. Ali menjelaskan bahwa tantangan terbesar muncul dari karakteristik bahasa Arab Al-Qur'an yang berbeda dengan bahasa Arab modern.

"Apple Speech Framework memang mendukung bahasa Arab, tapi dioptimasi untuk percakapan modern, bukan untuk tajwid dan pelafalan Qur'ani," jelasnya.

Guna mengatasi kendala komputasi tersebut, Ali memodifikasi sistem pencocokan kata agar memiliki fleksibilitas tinggi. Langkah ini diambil agar algoritma tetap akurat dalam mendeteksi dan menoleransi berbagai variasi pelafalan khas anak-anak.

Keamanan Data dan Akses Tanpa Internet

Selain keunggulan fitur utama, Nuramma menerapkan sistem pemrosesan kecerdasan buatan yang berjalan sepenuhnya di dalam perangkat (on-device). Strategi ini memastikan tidak ada data rekaman suara pengguna yang dikirimkan ke server eksternal.

Kebijakan pemrosesan lokal tersebut sengaja diimplementasikan untuk memberikan perlindungan privasi yang maksimal bagi anak-anak selaku pengguna utama aplikasi.

"Suara anak-anak yang sedang membaca Al-Qur'an adalah sesuatu yang sangat sensitif dan personal," ujarnya.

Keuntungan lain dari arsitektur on-device ini adalah kapabilitas aplikasi untuk dioperasikan tanpa membutuhkan koneksi internet sama sekali. Faktor fungsionalitas luring ini dinilai krusial mengingat ketersediaan jaringan internet yang belum merata di berbagai daerah terpencil.

Namun, pembatasan ruang penyimpanan lokal memicu kompleksitas tinggi dalam fase rekayasa perangkat lunak. Ali dituntut untuk mengoptimalkan kinerja model AI agar kompatibel dengan spesifikasi hardware lokal yang terbatas.

Kondisi tersebut diperketat oleh regulasi resmi dari kompetisi Swift Student Challenge. Penyelenggara menetapkan batas maksimal ukuran kapasitas berkas aplikasi yang tidak boleh melebihi 25 MB.

Gamifikasi Edukasi dan Fitur Inklusif

Untuk menjaga retensi dan minat belajar anak agar tidak jenuh, Nuramma mengadopsi konsep gamifikasi. Aplikasi dilengkapi dengan mode Challenge yang menyajikan kuis interaktif, efek getar haptic, serta umpan balik visual yang menarik.

"Tampilannya aku sesuaikan agar familiar dengan Duolingo karena adik-adikku sering memainkannya," katanya.

Nuramma juga dirancang ramah disabilitas dengan menyertakan dukungan Quran Sign Language. Fitur aksesibilitas ini bertujuan membantu anak-anak penyandang tunarungu agar tetap mendapatkan hak pendidikan Al-Qur'an secara setara.

Aplikasi ini dikembangkan secara native menggunakan ekosistem framework resmi milik Apple, meliputi SwiftUI, Speech Framework, hingga AVFoundation. Ali menghindari penggunaan pustaka atau dependensi pihak ketiga agar performa program tetap ringan sebagai proyek Swift Playground.

Rencana pengembangan masa depan untuk Nuramma mencakup integrasi fitur panduan tajwid yang lebih mendalam, pelacak progres harian, serta perluasan konten hafalan ke juz-juz berikutnya.

"Mimpi besarku adalah menjadikan Nuramma sebagai ekosistem pembelajaran Al-Qur'an yang lengkap dan inklusif," tutupnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author