Liverpool Pecat Arne Slot Setelah Performa Tim Merosot Tajam
Manajemen Liverpool resmi mengakhiri masa jabatan Arne Slot sebagai pelatih kepala setelah kompetisi musim 2025/2026 berakhir mengecewakan. Keputusan ini diambil setelah klub berjuluk The Reds tersebut gagal mempertahankan performa terbaik mereka.
Padahal, pelatih asal Belanda itu memiliki catatan manis pada musim sebelumnya. Seperti dikutip dari Bola, Arne Slot sempat membawa Liverpool meraih gelar juara Premier League sekaligus mengamankan tiket menuju kompetisi Liga Champions.
Namun, performa Liverpool merosot tajam pada musim berikutnya hingga tidak mampu bersaing dalam perebutan takhta juara. Ekspektasi publik sempat membubung tinggi ketika manajemen klub memecahkan rekor transfer Inggris sebanyak dua kali.
Klub mendatangkan Florian Wirtz dari Bayer Leverkusen, yang kemudian disusul oleh perekrutan Alexander Isak dari Newcastle United dengan nilai transfer yang lebih besar. Kendati demikian, serangkaian hasil buruk di lapangan justru mempercepat akhir era Slot di Anfield.
Faktor utama yang memicu kemunduran ini adalah memburuknya hubungan antara Arne Slot dan Mohamed Salah. Ketegangan dimulai saat pelatih memutuskan untuk mencadangkan Salah pada akhir tahun 2025.
Mohamed Salah sempat melontarkan kritik terbuka setelah hanya menjadi penonton dalam dua pertandingan. Hubungan keduanya semakin memanas setelah Liverpool menelan kekalahan 2-4 dari Aston Villa.
Melalui media sosial, Salah secara terbuka meminta Liverpool kembali memainkan sepak bola menyerang khas era Jurgen Klopp.
"Kami kembali menelan kekalahan musim ini dan itu sangat menyakitkan serta bukan yang pantas diterima para suporter," tulis Salah.
"Saya ingin melihat Liverpool kembali menjadi tim dengan sepak bola menyerang ala heavy metal yang ditakuti lawan dan kembali menjadi tim yang memenangkan trofi."
"Itulah sepak bola yang saya pahami dan identitas yang harus dipulihkan serta dipertahankan. Itu tidak bisa ditawar dan setiap orang yang datang ke klub ini harus menyesuaikan diri," imbuhnya.
"Memenangi beberapa pertandingan sesekali bukanlah standar Liverpool. Semua tim bisa menang. Liverpool akan selalu menjadi klub yang sangat berarti bagi saya dan keluarga saya. Saya ingin melihat klub ini sukses jauh setelah saya pergi," lanjut Salah.
Kini, kebersamaan kedua sosok tersebut di Anfield telah berakhir karena baik Slot maupun Salah sama-sama meninggalkan Liverpool.
Selain masalah internal, performa di stadion kandang juga hancur. Pada Oktober, Liverpool takluk 1-2 dari Manchester United di Anfield melalui gol Bryan Mbeumo dan sundulan Harry Maguire, sementara tuan rumah hanya membalas lewat Cody Gakpo.
Pukulan berikutnya terjadi pada November saat Nottingham Forest mempermalukan Liverpool di Anfield dengan skor telak 0-3 berkat gol dari Murillo, Nicolo Savona, dan Morgan Gibbs-White.
Kegagalan di Eropa dan Protes dari Pendukung Anfield
Di panggung Liga Champions, Liverpool sebenarnya sempat tampil apik pada fase liga. Namun, kekalahan telak 1-4 dari PSV Eindhoven di Anfield menjadi alarm keras bagi jajaran manajemen.
Lini pertahanan yang dikomandoi Virgil van Dijk tampil buruk dalam laga tersebut. Hasil negatif ini memicu gelombang desakan dari suporter yang meminta pergantian pelatih.
Langkah Liverpool di ajang Piala FA juga terhenti secara tragis setelah dihantam Manchester City dengan skor 0-4 di Etihad Stadium. Erling Haaland mencetak tiga gol, ditambah satu gol dari Antoine Semenyo.
Kondisi internal tim semakin tidak kondusif setelah Dominik Szoboszlai terlibat friksi dengan suporter di luar lapangan. Memasuki bulan Maret, harapan finis di posisi empat besar sirna setelah kalah dari Wolverhampton Wanderers.
Gol telat dari Andre memastikan kemenangan Wolves dan menahan Liverpool di peringkat kelima. Puncaknya terjadi pada awal Mei saat Liverpool menjamu Chelsea di Anfield.
Keputusan Slot menarik keluar Rio Ngumoha langsung disambut sorakan cemoohan dari tribun penonton. Situasi tersebut menjadi sinyal jelas bahwa publik Anfield telah kehilangan kepercayaan kepada sang manajer.