Liga Inggris Tolak Perluas Kewenangan VAR untuk Sepak Pojok
Kewenangan video assistant referee (VAR) dikabarkan tidak akan diperluas oleh pengelola Liga Inggris mulai musim depan. Keputusan tersebut diambil meskipun FIFA berencana menerapkan regulasi baru terkait teknologi tersebut di Piala Dunia 2026 mendatang.
Langkah penolakan ini muncul setelah adanya pembicaraan intensif antara pihak Premier League dengan badan wasit Inggris, Professional Game Match Officials (PGMO). Padahal, International Football Association Board (Ifab) sebenarnya telah menyetujui perubahan aturan yang memberi ruang bagi VAR untuk mengintervensi keputusan sepak pojok.
Pihak Ifab sendiri memberikan kebebasan penuh kepada setiap kompetisi domestik untuk menentukan sikap. Dilansir dari Bola, PGMO secara resmi telah menyarankan Premier League agar tidak menambah beban tugas VAR guna menghindari durasi pertandingan yang molor jauh lebih lama.
Menurut penilaian PGMO, proses pemeriksaan VAR khusus untuk momen sepak pojok berpotensi memicu tambahan waktu henti pertandingan secara signifikan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu kepentingan pemegang hak siar televisi sekaligus memperbesar tekanan bagi perangkat pertandingan di lapangan.
Sikap senada juga ditunjukkan oleh mayoritas klub peserta Liga Inggris yang enggan menambah tanggung jawab VAR. Banyak klub menilai intervensi yang terlalu sering hanya akan membuat ritme jalannya pertandingan domestik menjadi terputus-putus.
Di sisi lain, FIFA memegang sudut pandang yang bertolak belakang mengenai kebijakan ini. Ketua Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina dan Presiden FIFA Gianni Infantino dilaporkan sangat khawatir jika kesalahan dalam keputusan sepak pojok dapat merugikan tim di Piala Dunia, terutama pada fase gugur.
Bagi FIFA, potensi laga yang berjalan lebih lama tidak menjadi persoalan besar karena Piala Dunia 2026 juga akan menerapkan jeda hidrasi tambahan selama tiga menit di setiap babak. Perbedaan atmosfer ini membuat regulasi tersebut tetap akan dicoba di level internasional.
Kontroversi di Kompetisi Domestik
Situasi di kompetisi domestik dinilai berbeda oleh PGMO mengingat durasi panjang 38 pertandingan dalam semusim membuat dampak satu sepak pojok tidak selalu bersifat krusial. Namun, perdebatan ini sempat memanas kembali akibat insiden dalam laga antara West Ham United melawan Arsenal.
Dalam pertandingan tersebut, wasit Chris Kavanagh menganulir gol penyeimbang yang dicetak oleh Callum Wilson pada masa injury time setelah berdiskusi dengan petugas VAR Darren England. Putusan itu menguntungkan Arsenal dalam persaingan gelar juara, sekaligus membuat posisi West Ham kian terpuruk di papan bawah.
Kepala perwasitan PGMO Howard Webb dijadwalkan bakal mengupas tuntas insiden tersebut dalam program acara Sky Sports Match Officials Mic'd Up. Meski memicu polemik, pihak PGMO tetap percaya bahwa Chris Kavanagh dan Darren England telah bertindak sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Merespons kejadian merugikan itu, manajemen West Ham dikabarkan siap mengajukan keluhan resmi terkait dugaan pelanggaran terhadap Pablo yang dianggap mengganggu pergerakan kiper Arsenal David Raya. Kendati demikian, West Ham juga menyadari langkah formal ini tidak akan mengubah hasil akhir laga yang sudah berjalan.
Pihak Ifab sendiri memperkirakan pembahasan lebih mendalam mengenai duel fisik serta aksi tarik-menarik dalam situasi sepak pojok baru akan digulirkan setelah gelaran Piala Dunia 2026 selesai. Hingga saat ini, belum ada usulan konkret yang disepakati untuk mengatasi persoalan tersebut di lapangan.