Kritik Terhadap FIFA Meningkat Akibat Kasus Balogun dan Isu Komersial

Share

Hubungan erat antara Presiden FIFA Gianni Infantino dan Donald Trump memicu gelombang kritik serta menggerus kepercayaan publik terhadap otoritas sepak bola dunia tersebut, seperti dilansir dari Detikcom.

Kontroversi memuncak saat Donald Trump mengklaim dirinya memengaruhi keputusan FIFA untuk menunda hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, menjelang laga babak 16 besar Piala Dunia melawan Belgia.

"Saya yang membuat mereka melakukannya," kata Donald Trump pada Senin (6/7), merujuk pada keputusan kontroversial FIFA untuk membatalkan larangan bermain akibat kartu merah bagi penyerang Amerika Serikat (AS), Folarin Balogun, menjelang kekalahan timnya dari Belgia di babak 16 besar Piala Dunia.

Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh FIFA yang menegaskan bahwa penundaan hukuman diambil secara independen oleh Komite Disiplin berdasarkan pasal 27 statuta organisasi.

Selain intervensi politik, FIFA juga menghadapi keluhan berat terkait lonjakan harga tiket, penolakan visa suporter, serta kepadatan jadwal kompetisi baru seperti Piala Dunia Antarklub yang diperluas.

"Saya rasa para pemain tidak terlalu didengarkan, kalau boleh jujur," kata penyerang Bayern Munchen dan timnas Inggris, Harry Kane, tahun lalu.

Sistem tata kelola komersial FIFA dinilai oleh sejumlah pakar sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan patronase di dalam organisasi, di mana dana komersial digunakan demi mengonsolidasikan dukungan politik.

"Dimensi komersial adalah fondasi sistem kekuasaan FIFA. Uang digunakan oleh para presiden untuk mengumpulkan dan mengonsolidasikan kekuasaan mereka," kata Miguel Maduro, mantan Ketua Komite Tata Kelola, Audit, dan Kepatuhan FIFA, kepada DW.

Maduro menambahkan bahwa sistem ini membuat presiden petahana hampir mustahil mendapatkan penantang dalam pemilihan struktural.

"Itulah yang menopang sistem patronase, di mana para presiden memberi penghargaan kepada mereka yang loyal dan menghukum siapa pun yang berani mengkritik. Hal itu menjelaskan mengapa presiden yang sedang menjabat hampir tidak pernah ditantang dan dapat terus berkuasa tanpa batas."

Melihat kebuntuan reformasi dari dalam, beberapa pihak menilai intervensi eksternal seperti dari Uni Eropa menjadi satu-satunya jalan untuk membenahi FIFA.

"Perlu ada intervensi politik. Tidak ada cara lain untuk memperbaiki FIFA," katanya kepada DW, merujuk pada pernyataan Nick McGeehan dari organisasi hak asasi manusia FairSquare.

McGeehan mengusulkan Uni Eropa untuk bertindak mengawasi tata kelola olahraga ini layaknya mereka mengawasi perusahaan teknologi raksasa.

"Saya kira contoh yang paling jelas adalah Uni Eropa, yang dapat mengatur dan mengewasi olahraga sebagaimana mereka mengatur hal-hal lain seperti perusahaan teknologi besar."

Komisi Eropa mengonfirmasi telah menerima pengaduan konsumen terkait praktik penjualan tiket Piala Dunia, meski menegaskan hukum Uni Eropa tidak mengatur batas harga barang secara langsung.

"Pelaku usaha harus memberikan informasi yang memadai kepada konsumen mengenai harga total yang ditawarkan dan menghindari praktik komersial yang menyesatkan, seperti mengiklankan harga awal tiket yang sebenarnya tidak tersedia atau menggunakan teknik penjualan yang menekan konsumen saat mereka sedang menunggu dalam antrean virtual," kata juru bicara Komisi Eropa kepada DW.

Ketegangan internal juga meruncing antara FIFA dan UEFA, yang secara terbuka melayangkan protes keras terhadap keputusan FIFA terkait kasus Balogun.

"Sepak bola diciptakan untuk menghubungkan orang," kata Presiden UEFA Aleksander Ceferin.

Kritik senada disampaikan oleh Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Bernd Neuendorf, yang menuntut transparansi demi menjaga integritas kompetisi dunia.

"Kesan bahwa telah terjadi campur tangan politik secara aktif dalam olahraga harus segera dan secara meyakinkan dibantah. Integritas kompetisi dan kredibilitas FIFA sedang dipertaruhkan," kata Bernd Neuendorf.

Di tengah badai kritik tersebut, Gianni Infantino tetap mempertahankan kebijakannya dan mengklaim seluruh pendapatan komersial organisasi didistribusikan kembali untuk pengembangan sepak bola global.

"Setiap dolar yang kami hasilkan akan kembali ke sepak bola," katanya kepada wartawan sehari sebelum turnamen dimulai pada 10 Juni.

Infantino berargumen bahwa investasi FIFA menyasar wilayah-wilayah terpencil yang kerap diabaikan oleh investor komersial lainnya.

"Jika kami menjual hak siar kepada televisi berbayar seperti yang dilakukan pihak lain, kami akan memperoleh pendapatan yang 4 kali lebih besar. Kami bahkan bisa membagikan semua tiket secara gratis, tetapi tiket itu tetap akan berakhir di pasar gelap. Sebagai presiden FIFA, kami harus menjaga keseimbangan.

Kami berinvestasi di negara-negara yang tidak dilirik siapa pun, seperti Sudan Selatan dan Bhutan. Tidak ada pihak lain yang melakukan itu."

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author