Kondisi Pino Bahari Memprihatinkan Setelah Mengalami Kecelakaan
Kondisi memprihatinkan kini tengah menimpa Pino Bahari, mantan petinju legendaris Indonesia asal Bali. Pria berusia 53 tahun tersebut mengalami kecelakaan sepeda motor di kawasan Sanur pada 13 April lalu yang membuatnya tidak berdaya.
Dikutip dari Bola, insiden nahas tersebut mengakibatkan empat tulang rusuk kiri dan kaki kiri Pino Bahari patah. Situasi ini semakin berat lantaran kondisi keuangan keluarga yang sedang tidak stabil untuk membiayai operasi.
"Waktu itu, biaya operasi membutuhkan sekitar Rp200 juta. Beruntungnya sebagian besar masih di tanggung oleh BPJS Kesehatan. Sekarang sudah berangsur membaik meskipun gerak saya terbatas," beber Pino pada Selasa (5/5/2026).
Sebelum musibah ini terjadi, Pino Bahari yang merupakan peraih emas kelas menengah 75 kg Asian Games 1990 di Beijing harus bertahan hidup dengan bekerja serabutan. Ia sempat menjadi petugas keamanan dan pengemudi daring setelah kehilangan pekerjaan sebagai pelatih sasana di Canggu.
Padahal, Pino Bahari memiliki rekam jejak mentereng dengan melatih petinju dunia Daud Yordan pada periode 2018 hingga 2019. Ia juga tercatat sebagai petinju Indonesia terakhir yang mampu menyumbang medali emas di ajang Asian Games setelah era Wiem Gomies pada 1970 dan 1978.
Pada hari wawancara tersebut, Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) Taufik Hidayat sedianya dijadwalkan datang menjenguk ke rumah Pino Bahari. Namun, rencana kunjungan itu batal terlaksana karena agenda lain.
Taufik Hidayat bersama Menpora Erick Thohir diketahui tengah berada di Bali selama dua hari terakhir. Keduanya menghadiri rangkaian acara resmi SEA Ministerial Meeting On Youth and Sports 2026.
Pino Bahari mengaku tetap bersyukur atas perhatian personal yang diberikan oleh sesama mantan atlet nasional, meski bantuan resmi dari institusi pemerintah belum ia terima.
"Saya bersyukur beliau masih ingat dan berusaha menyempatkan diri menjenguk saya. Tapi memang itu masih secara pribadi, belum atas nama pemerintah," bebernya.
Berkaca dari garis hidupnya, Pino Bahari sangat mengharapkan adanya regulasi konkret dari pemerintah yang menjamin masa tua dan kesejahteraan para mantan atlet berprestasi.
"Harus ada regulasi atau undang-undang yang menjamin masa depan atlet. Jangan sampai setelah selesai membela negara, mereka kesulitan hidup," tegasnya.
Pino menambahkan, keberadaan jaminan masa depan bagi atlet juga akan memberikan rasa aman bagi para orang tua untuk mendukung anak-anak mereka meniti karier di dunia olahraga.
"Kalau ada jaminan masa tua yang jelas, orang tua pasti lebih yakin mendukung anaknya menjadi atlet nasional," tutup Pino.