Komdigi Kaji Empat Pita Frekuensi untuk Jaringan 6G

Share

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah mengkaji sejumlah kandidat spektrum frekuensi yang akan digunakan untuk mengimplementasikan jaringan 6G di Indonesia. Langkah ini diambil dengan sangat hati-hati, seperti dilansir dari Detik iNET, karena pemerintah memilih untuk menunggu hasil pembahasan global. Keputusan resmi tersebut direncanakan akan mengacu pada hasil World Radiocommunication Conference (WRC) yang diselenggarakan pada akhir tahun depan.

Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Adis Alifiawan, menjelaskan bahwa pemerintah tidak ingin tergesa-gesa dalam menetapkan spektrum 6G.

Ia menekankan bahwa penentuan waktu dan pita frekuensi memerlukan pertimbangan matang dari berbagai sektor, termasuk kesiapan ekosistem lokal serta dinamika industri telekomunikasi dunia.

"Tentu diskusi seperti ini terus kami lakukan, baik dengan operator maupun vendor. Karena kalau bicara terlambat atau tidaknya implementasi suatu teknologi itu banyak dimensinya. Timing harus dilihat dari banyak sisi," ujar Adis.

Pemerintah aktif menjalin komunikasi dengan para pelaku industri guna merancang arah pengembangan teknologi seluler generasi keenam tersebut. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dan menghindari kendala operasional yang sempat muncul pada adopsi teknologi generasi sebelumnya.

Adis mengungkapkan bahwa sejauh ini terdapat empat kandidat pita frekuensi yang masuk dalam radar pembahasan global, yakni 4 GHz, 6 GHz, 7 GHz, dan 15 GHz. Meski demikian, seluruh opsi spektrum frekuensi tersebut memiliki karakteristik teknis serta tantangan implementasi yang berbeda-beda.

"Empat-empatnya punya plus minus. Tidak ada yang benar-benar paling ideal. Semuanya juga sudah ada pemanfaatannya sehingga tidak ada yang benar-benar kosong," katanya.

Ia memaparkan bahwa pita frekuensi tinggi seperti 15 GHz mempunyai keunggulan berupa bandwidth besar yang mampu menyokong kapasitas jaringan tinggi, tetapi jangkauan sinyalnya sangat pendek.

Sebaliknya, pita frekuensi yang lebih rendah menawarkan area cakupan sinyal yang jauh lebih luas, namun dengan keterbatasan kapasitas bandwidth.

"Kalau 15 GHz bandwidth-nya besar, tetapi jangkauannya pendek. Sementara 4 GHz, 6 GHz, dan 7 GHz juga masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi memang belum sampai pada tahap pengambilan keputusan," tuturnya.

Selain tantangan dari aspek teknis, Komdigi juga menitikberatkan perhatian pada arah kebijakan yang diambil oleh negara-negara lain di dunia.

Adis menyatakan bahwa Indonesia memerlukan harmonisasi internasional karena keputusan spektrum akan berdampak langsung pada penyediaan perangkat, nilai investasi, serta skala ekonomi industri.

"Kita juga melihat negara lain. Indonesia tidak bisa berjalan sendiri. Keputusan yang kita ambil sangat bergantung pada perkembangan global. Kalau salah mengambil langkah, kita bisa tidak masuk ke ekosistem ekonomi yang tepat," katanya.

Saat ini, pihak Komdigi memutuskan untuk bersikap wait and see sembari terus memonitor perkembangan diskusi di kancah internasional.

"Kalau dari kami memang masih wait and see. Keputusan formal mengenai spektrum 6G secara internasional baru akan dibahas dalam sidang WRC pada akhir tahun depan. Jadi diskusi-diskusi seperti ini justru penting sebagai bekal sebelum mengambil keputusan," tutur Adis.

Sebagai informasi tambahan, World Radiocommunication Conference (WRC) merupakan forum resmi di bawah International Telecommunication Union (ITU) yang bertugas menyusun regulasi pemanfaatan spektrum frekuensi radio global.

Hasil dari konferensi internasional tersebut nantinya akan menjadi rujukan utama bagi berbagai negara, termasuk Indonesia, dalam menentukan pita frekuensi teknologi komunikasi masa depan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author