Keuntungan Genetik Jelaskan Lonjakan Populasi Ular Pohon Cokelat di Guam

Share

Peneliti berhasil memecahkan rahasia di balik lonjakan populasi ular pohon cokelat di Pulau Guam. Seperti dilansir dari Detik iNET, studi terbaru menunjukkan adanya keuntungan genetik yang tersembunyi pada reptil invasif tersebut.

Kedatangan ular pohon cokelat (Boiga irregularis) di Guam terjadi tidak lama setelah Perang Dunia II. Hewan ini diperkirakan terbawa kapal kargo militer sebelum akhirnya berkembang menjadi salah satu spesies invasif paling terkenal di dunia.

Hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Science Advances oleh ilmuwan University at Buffalo, New York, mengungkap rahasia keberhasilan reptil ini menguasai pulau terpencil di Samudra Pasifik bagian barat tersebut.

Ular berukuran sedang ini memiliki warna kulit cokelat kemerahan atau kekuningan dengan corak melintang gelap. Penampilan tersebut memudahkan mereka berkamuflase di kulit pohon maupun lantai hutan. Meski berbisa ringan dan tidak membahayakan manusia, dampaknya terhadap lingkungan sangat besar.

Populasi ular ini meningkat sangat cepat setelah berhasil mendarat di Guam. Memasuki awal dekade 1980-an, jumlahnya diperkirakan telah menembus dua juta ekor. Kepadatan populasinya bahkan mencapai 30.000 ekor per mil persegi di beberapa area, yang memicu kerugian ekonomi dan kerusakan keanekaragaman hayati.

Sebanyak 10 dari 12 spesies burung hutan asli Guam dinyatakan punah akibat serangan reptil ini. Punahnya burung-burung penyerbuk tersebut berdampak langsung pada penurunan keanekaragaman vegetasi lokal. Selain itu, kebiasaan ular ini memanjat jaringan listrik sering memicu pemadaman listrik secara meluas di pulau tersebut.

Variasi Genetik Mencegah Kepunahan Akibat Kawin Sedarah

Ledakan populasi dari jumlah individu yang sedikit pada awal kedatangan sempat membingungkan para peneliti. Fenomena bottleneck genetik biasanya memicu perkawinan sedarah, yang berdampak pada penurunan ketahanan terhadap penyakit dan daya adaptasi lingkungan.

Melalui analisis genom, tim peneliti menemukan fakta bahwa ular tersebut menyimpan sumber keanekaragaman genetik yang signifikan. "Ular pohon cokelat mungkin tidak memiliki keragaman luar biasa, tetapi ia memiliki sumber penting keanekaragaman genetik yang selama ini kurang disadari," ujar Trevor Krabbenhoft, associate professor University at Buffalo.

Pemeriksaan mendalam terhadap genom ular pohon cokelat menunjukkan keberadaan sekitar 19.000 variasi struktural. Sebagian besar variasi ini terpusat pada gen yang mengatur indra penciuman serta sistem kekebalan tubuh adaptif.

Navigasi dan aktivitas berburu ular sangat mengandalkan fungsi penciuman. Di sisi lain, sistem kekebalan yang kuat membantu mereka bertahan dari paparan patogen baru di Guam. Perpaduan kedua faktor genetik ini diduga menjadi kunci utama keberhasilan mereka mendominasi wilayah baru.

Proses pembentukan variasi genetik tersebut masih diteliti lebih lanjut, apakah sudah ada sebelum tiba atau baru berevolusi setelah menginvasi Guam. Gray menyatakan, "Apakah mungkin sebagian dari keanekaragaman ini muncul setelah invasi? Bisa saja, tetapi kita harus mengurutkan ular dari populasi aslinya untuk mengetahuinya secara pasti."

Temuan ini memberikan sudut pandang baru mengenai potensi adaptasi pada spesies terancam punah dengan populasi kecil. "Ada kemungkinan spesies terancam punah mungkin punya fleksibilitas lebih besar dalam gen mereka dari yang disadari," kata Christopher Osborne, mantan mahasiswa PhD di laboratorium Krabbenhoft.

"Kami sekarang mendapatkan pemahaman lebih baik tentang sumber-sumber keanekaragaman genetik yang sebelumnya kurang disadari, yang dapat menjelaskan bagaimana beberapa spesies hasil kawin sedarah masih dapat merespons lingkungan," imbuhnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author