Donald Trump Klaim Kesepakatan Damai AS dan Iran Segera Rampung
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran hampir selesai dan pembukaan kembali Selat Hormuz akan segera diumumkan pada Sabtu, 23 Mei 2026, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Klaim sepihak dari Washington tersebut langsung memicu reaksi beragam, bahkan salah satu media semi-resmi Iran meragukan kebenaran terkait tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.
"Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lainnya," tulis Trump melalui unggahan di media sosial.
Pernyataan tertulis pemimpin AS tersebut muncul di tengah laporan Axios yang menyebutkan pakta damai mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari demi membuka kembali jalur logistik Selat Hormuz.
Negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Teheran akan dilaksanakan kemudian, dengan draf yang juga mengatur penghentian perang paralel antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.
Meskipun kantor berita semi-resmi Iran Tasnim melaporkan adanya detail serupa mengenai pelonggaran sanksi minyak dan produk petrokimia, sinyal dari Teheran tetap menunjukkan ketidakpastian.
Kantor berita semi-resmi Fars pada Minggu dini hari, 24 Mei 2026, langsung menepis klaim sepihak dari Amerika Serikat tersebut.
"jauh dari kenyataan." kata laporan Fars tanpa menyebutkan sumber resmi.
Penutupan Selat Hormuz sejak 28 Februari oleh AS dan Israel telah memicu krisis energi global karena jalur ini dilalui seperlima pasokan minyak dunia.
Iran menuntut penarikan sebagian signifikan aset mereka yang dibekukan di luar negeri dan menolak menyerahkan uranium hasil pengayaan tinggi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan penegasan mengenai posisi Washington yang tetap bersikeras terhadap pembatasan kepemilikan senjata nuklir Teheran.
"Pilihan utama presiden selalu menyelesaikan masalah seperti ini melalui solusi diplomatik yang dinegosiasikan," kata Rubio kepada wartawan saat kunjungan ke India.
Kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel akibat konflik ini terus memberikan tekanan politik domestik yang besar bagi pemerintahan Trump menjelang pemilu sela November.