Kenali Lima Sikap Orang Toksik yang Merusak Hubungan Sosial
Hubungan yang sehat dan saling mendukung dengan pasangan, keluarga, maupun teman sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran orang-orang terdekat yang memberikan rasa nyaman dapat membantu menjaga kesehatan mental serta meningkatkan kualitas hidup.
Namun, tidak semua interaksi memberikan dampak positif bagi seseorang. Ada kalanya seseorang justru merasa lelah, tertekan, atau kehilangan kepercayaan diri setelah berinteraksi dengan individu yang menunjukkan sikap toksik dalam kesehariannya, seperti dilansir dari HaiBunda.
Perilaku tersebut bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman dan tidak dihargai jika terus dibiarkan. Oleh karena itu, mengenali tanda-tandanya sejak dini menjadi hal penting agar batasan yang sehat dalam hubungan sosial dapat tetap terjaga.
Seseorang yang memiliki perilaku toksik umumnya menunjukkan beberapa kebiasaan yang membuat orang lain merasa lebih buruk setelah berinteraksi. Melansir dari laman Your Tango, terdapat beberapa ciri perilaku yang perlu diwaspadai.
Gemar memberikan penilaian negatif secara berlebihan menjadi salah satu ciri utama dari orang toksik. Mereka lebih sering mengkritik, mengejek, atau membuat orang lain merasa kurang percaya diri daripada memberikan dukungan.
Teman atau orang terdekat seharusnya menjadi sosok yang memberikan semangat dan dorongan positif dalam hubungan yang sehat. Perilaku tersebut patut diwaspadai jika seseorang lebih sering membuat orang lain merasa tidak cukup baik, termasuk jika ia kerap membicarakan keburukan orang di belakang mereka.
Menurut psikolog klinis Dr. Ramani Durvasula, perilaku merendahkan dan terus-menerus mengkritik dapat menjadi bentuk hubungan yang tidak sehat karena berpotensi merusak harga diri seseorang.
Sering Berbohong dan Mengkhianati Kepercayaan
Orang toksik cenderung berbohong mengenai hal-hal yang penting dan dapat merugikan orang lain. Kebiasaan tidak jujur ini dapat menimbulkan konflik, kesalahpahaman, hingga hilangnya rasa percaya dalam hubungan.
Hubungan akan sulit berkembang secara sehat ketika seseorang terus-menerus menyampaikan informasi yang tidak benar. Suka mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan juga menjadi tanda yang perlu diwaspadai berikutnya.
Tindakan tersebut dapat berupa menyebarkan rahasia pribadi, memutarbalikkan cerita, hingga memanfaatkan informasi yang seharusnya dijaga dengan baik. Ketika seseorang berulang kali melanggar kepercayaan, hubungan akan dipenuhi rasa curiga dan ketidaknyamanan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi salah satu faktor utama yang mendukung kualitas hubungan interpersonal dan kesejahteraan psikologis.
Menjadi Pusat Perhatian dan Terlalu Mengontrol
Fokus pada diri sendiri menjadi kecenderungan lain dari orang toksik. Mereka justru sering mengalihkan pembicaraan ke pengalaman atau persoalan pribadi saat orang lain mencoba bercerita tentang masalah yang sedang dihadapi.
Hubungan yang sehat seharusnya berjalan dua arah dengan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap pihak untuk didengar dan dipahami. Dominasi percakapan tanpa menunjukkan empati terhadap orang lain dapat menjadi tanda perilaku toksik.
Menurut buku The Gifts of Imperfection karya Brené Brown, kemampuan mendengarkan dan menunjukkan empati merupakan komponen penting dalam membangun hubungan yang bermakna.
Keinginan untuk mengatur keputusan dan kehidupan orang lain secara berlebihan juga menjadi ciri yang sering muncul. Mereka merasa paling tahu apa yang terbaik dan terus memberikan nasihat, bahkan ketika tidak diminta.
Orang dengan karakter seperti ini dapat membuat seseorang kehilangan kebebasan dalam mengambil keputusan. Padahal, hubungan yang sehat tetap menghormati pilihan, batasan, serta kemandirian masing-masing individu.
Teman yang baik akan memberikan masukan saat diperlukan tanpa memaksakan kehendaknya. Mereka memberikan dukungan tanpa menghakimi serta menghormati keputusan yang diambil oleh orang lain.