Kenaikan Harga Pertamax Picu Potensi Migrasi Pengguna Mobil ke Motor

Share

Kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM jenis Pertamax RON 92 yang cukup signifikan memicu pertanyaan mengenai dampaknya terhadap perilaku pengendara. Lonjakan harga yang mencapai hampir Rp 4.000 per liter ini berpotensi memengaruhi keputusan pengguna mobil dalam memilih moda transportasi harian.

Dilansir dari Detik Oto, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing atau YIMM menanggapi fenomena tersebut dengan menyiapkan jajaran kendaraan roda dua yang dinilai cocok bagi para pemilik mobil jika ingin beralih ke sepeda motor.

"Kalau bicara kemungkinan, pasti bisa aja (terjadi), cuma kami ya tak tahu. Kami dari Yamaha pastinya membuat produk berkualitas tinggi, juga customer oriented, layanan aftersales-nya juga, jadi kami harap hal itu juga menarik animo dari para pengendara roda empat," kata Rifki kepada wartawan di Jakarta (11/6/2026).

Manager Public Relations Yamaha Riding Academy & Community YIMM tersebut menjelaskan bahwa beberapa segmen motor Yamaha dapat menjadi alternatif kendaraan harian. Untuk pengendara perempuan, lini produk Classy seperti Fazzio dan Grand Filano menjadi opsi yang disediakan.

Sementara bagi pengendara pria, Yamaha menawarkan jajaran skuter matik besar di kategori Maxi. Model yang direkomendasikan untuk segmen ini meliputi Yamaha Xmax, Nmax, serta Aerox.

"Mungkin contohnya, pemilik mobil (yang pindah ke motor), untuk istri (atau kaum perempuan) bisa pilih yang Classy. Tapi untuk suami (atau kaum laki-laki) bisa pilih model Maxi, seperti itu," tambah Rifki.

Sebelumnya, penyesuaian harga BBM non-subsidi telah diberlakukan oleh PT Pertamina Patra Niaga. Tarif untuk Pertamax RON 92 mengalami kenaikan dari semula Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter sejak 10 Juni. Tidak hanya itu, Pertamax Green RON 95 juga melonjak dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah," bilang Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Roberth MV.

Pihak manajemen Pertamina Patra Niaga menyatakan bahwa langkah penyesuaian tarif komoditas energi non-subsidi ini diambil setelah melakukan koordinasi dengan pihak regulator. Keputusan tersebut juga mempertimbangkan fluktuasi pergerakan harga minyak mentah di pasar dunia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author