Kemlu Tepis Isu Dua Pabrik Otomotif Jepang Pindah ke Vietnam
Kabar mengenai rencana kepindahan dua pabrik otomotif asal Jepang dari Jawa Timur ke Vietnam dipastikan tidak menggambarkan kondisi iklim investasi nasional secara keseluruhan. Isu hengkangnya perusahaan komponen otomotif tersebut dilansir dari Detik Oto.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Santo Darmosumarto, menjelaskan bahwa arus modal asing yang masuk ke dalam negeri saat ini masih menunjukkan tren positif. Menurutnya, banyak investor baru yang terus berdatangan untuk menanamkan modal di Indonesia.
"Karena di saat yang sama kita masih melihat banyak sekali investasi baru yang datang ke Indonesia dari negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China," kata Santo di Jakarta, dilansir dari Antaranews, Kamis (25/6).
Santo menegaskan bahwa keputusan operasional sebuah korporasi untuk memindahkan fasilitas produksi tidak selalu berkaitan dengan iklim bisnis di negara asal. Dinamika tersebut dinilai lebih condong pada bagian dari penyesuaian strategi internal masing-masing perusahaan.
Komitmen investasi baru juga disebut terus berjalan, terutama setelah kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke beberapa negara mitra strategis. Kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan menjadi salah satu pendorong masuknya modal baru.
"Walaupun ada beberapa yang keluar, bukan berarti mereka keluar karena spesifik kondisi iklim di Indonesia, tapi bisa jadi juga karena perencanaan strategis internal mereka," ungkapnya.
Sebelumnya, Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, menyampaikan informasi mengenai rencana relokasi dua pabrik komponen otomotif yang berlokasi di Jawa Timur tersebut menuju Vietnam.
Langkah pemindahan operasional ini dikhawatirkan memicu pemutusan hubungan kerja terhadap ribuan tenaga kerja lokal. Hingga saat ini, identitas resmi dari kedua entitas bisnis tersebut belum dibuka secara mendetail kepada publik.
"Di daerah Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur, ada dua perusahaan, saya belum bisa sebut nama perusahaannya. Dua perusahaan raksasa komponen otomotif. Itu bisa ribuan karyawannya akan terdampak PHK," ujar Said Iqbal dalam konferensi pers.
Kedua korporasi yang memiliki inisial J dan S ini dikabarkan mengalihkan fokus bisnis mereka ke sektor kendaraan listrik. Kebijakan insentif dan ekosistem di Vietnam dianggap lebih kompetitif bagi pengembangan produk baru mereka.
"Jadi prinsipalnya di Jepang, akan memindahkan produksinya ke negara-negara yang lebih produktif dan mengubah diversifikasi produknya. Jadi mereka akan berfokus di mobil listrik yang pengembangannya dilakukan di Vietnam, bukan di Indonesia," tuturnya.
Rencana perpindahan ini disebut masih berada dalam tahap pembahasan awal di tingkat manajemen. Sektor manufaktur mobil listrik di Indonesia dinilai belum memberikan keunggulan kompetitif yang sebanding dengan regulasi baru di Vietnam.
"Karena di Indonesia rupanya mobil listrik, pabrik mobil listrik tidak kompetitif. Tapi di Vietnam sedang ada kebijakan pengembangan pabrik mobil listrik. Nah, dua perusahaan komponen otomotif di Pasuruan dan Mojokerto ini akan memindahkan sebagian.
Ini baru diskusi awal. Informasi awal. Ini ribuan juga (yang bisa terkena (PHK)," kata dia menambahkan.
Di sisi lain, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI membantah spekulasi mengenai penutupan fasilitas produksi tersebut. Dikutip dari CNN Indonesia, pihak kementerian memastikan aktivitas manufaktur kedua perusahaan di Pasuruan dan Mojokerto masih berjalan normal untuk memenuhi pasar ekspor.