Kementerian PKP Ungkap Modus Manipulasi Data KPR oleh Pengembang

Share

Praktik manipulasi data calon debitur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) oleh pengembang nakal dinilai telah merugikan konsumen serta merbankan dalam ekosistem perumahan nasional, seperti dilansir dari Detikcom pada Minggu (24/5/2026).

Kondisi tersebut turut mencoreng reputasi perbankan meskipun sistem peringatan dini sebenarnya rutin berjalan. Sejumlah kasus dugaan penyimpangan ini mencuat di beberapa wilayah seperti Bali, Palembang, hingga Karawang dengan modus manipulasi data penghasilan.

Tenaga Ahli Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Harry Endang Kawidjaja menjelaskan bahwa indikasi penyimpangan dalam skala besar di lapangan hampir pasti melibatkan unsur kesengajaan dari oknum tertentu.

"Kalau jumlahnya menumpuk, tidak mungkin pengembang tidak tahu. Bisa saja yang bermain sales atau admin KPR," ujar Harry Endang Kawidjaja, Tenaga Ahli Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Diskusi Media Inovasi Pembiayaan Perumahan Bagi Pekerja Informal di Jakarta pada Jumat (22/5). Harry menambahkan bahwa pihak perbankan sebetulnya langsung memperketat pembiayaan jika mendeteksi adanya anomali di suatu proyek.

"Bank sudah tahu ini, dan mitigasinya adalah mengecilkan keran penyaluran di kawasan bermasalah," kata Harry Endang Kawidjaja, Tenaga Ahli Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).

Menurutnya, publik tidak boleh langsung kehilangan kepercayaan terhadap industri pembiayaan rumah karena sektor perbankan memiliki pengawasan berlapis yang sangat ketat dari regulator.

"Ini seperti nila setitik merusak susu sebelanga. Karena itu semua ekosistem perumahan harus menjaga industrinya bersama-sama," ujar Harry Endang Kawidjaja, Tenaga Ahli Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).

Di sisi lain, pengamat properti Marine Novita turut mengimbau masyarakat agar tidak ikut serta dalam memalsukan dokumen pengajuan kredit demi keamanan finansial mereka sendiri.

"Yang bahaya itu edit data. Konsumen jangan melakukan hal-hal seperti itu," kata Marine Novita, Pengamat Properti.

Marine mengingatkan bahwa ket ketidakpercayaan publik akibat kasus yang berulang dapat membuat konsumen jera dan memukul keberlanjutan bisnis pembiayaan hunian murah.

"Kalau terus terjadi, konsumen bisa kapok dan industri ikut terdampak. Karena itu asosiasi, pengembang, perbankan, dan seluruh ekosistem harus menjaga bisnis ini bersama-sama," ujarnya Marine Novita, Pengamat Properti.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author