Kemenperin Soroti Kesenjangan Jumlah dan Mutu Ekosistem Startup
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti kesenjangan besar antara kuantitas dan kualitas ekosistem startup nasional di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026). Indonesia tercatat memiliki populasi startup terbesar keenam di dunia, namun mutu ekosistemnya masih tertahan di peringkat ke-45.
Berdasarkan data Startup Ranking yang dilansir dari Detik Finance, Indonesia mengoperasikan lebih dari 3.100 startup aktif. Angka tersebut melampaui pencapaian negara maju seperti Jerman, Prancis, hingga Uni Emirat Arab, sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai yang terbesar di Asia Tenggara.
Meski unggul secara kuantitas, laporan Global Startup Ecosystem Index 2026 menunjukkan kualitas ekosistem startup Indonesia masih berada di urutan ke-45 secara global, dengan Jakarta menduduki posisi ke-30 di tingkat kota dunia. Jarak peringkat ini menjadi tantangan pemerintah untuk segera dibenahi.
"Berdasarkan Global Startup Ecosystem Index tahun ini, tahun 2026, mutu dari ekosistem startup kita tertinggal jauh dan hanya berada di peringkat 45 dunia dengan posisi Jakarta berada pada peringkat 30 di antara kota-kota besar dunia. Peringkat ke-6 dalam jumlah, peringkat ke-45 dalam mutu, gapnya besar sekali," kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.
Agus menilai sektor industri rintisan harus mampu memberikan solusi atas permasalahan operasional di kawasan pabrik dan manufaktur. Peran teknologi dari startup dinilai krusial karena berkontribusi langsung pada efisiensi serta nilai tambah industri pengolahan nasional.
Sektor manufaktur sendiri mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,32% secara tahunan (yoy) pada kuartal II 2026 dan menjadi pendorong utama perekonomian nasional.
"Pertumbuhan manufaktur tercatat di atas pertumbuhan ekonomi nasional, yang tercatat 5,29%," kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.
Selain menyumbang 39,7% dari total realisasi investasi nasional dan menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja hingga Februari 2026, industri pengolahan menyumbang 82% terhadap total ekspor nasional dengan nilai US$ 115,50 miliar sepanjang semester I-2026.
"Nilai tambah yang saya maksud tadi tidak lahir hanya dari kapasitas produksi, tidak lahir hanya dari kapasitas produksi yang diperluas, yang diperbesar, namun nklai tambah tersebut lahir dari teknologi. Dan di sini lah kelihatan secara jelas peran dari startup menjadi sangat penting, bukan hanya sekadar sebagai pelengkap ekosistem digital, tetapi juga sebagai lapisan penyedia teknologi bagi industri-industri yang ada di Indonesia," kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.