Kekeringan Parah Menyebabkan Air Danau Brenets Surut Hingga 9 Meter

Share

Kekeringan hebat dan gelombang panas berkepanjangan melanda perbatasan Swiss-Prancis hingga menyebabkan air di Danau Brenets hampir sepenuhnya mengering pada Minggu (2/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Travel. Penurunan debit air yang drastis dari Sungai Doubs membuat kawasan wisata tersebut kini tampak tandus.

Penyusutan volume air berdampak langsung pada operasional transportasi air di kawasan tersebut. Puluhan perahu terdampar di dermaga akibat tinggi permukaan air danau yang tersisa hanya sekitar 9 meter setelah terus berkurang hingga 22 sentimeter setiap harinya.

Dampak ekonomi langsung dirasakan oleh pengelola kapal wisata local yang terpaksa menghentikan aktivitas usahanya. Pemilik Societe de Navigation des Brenets, Yvan Durig, harus merumahkan para pekerja dan menghadapi potensi kerugian usaha yang signifikan akibat berhentinya operasional kapal wisata Jumbo.

"Ini sangat memukul kami karena kami tidak berdaya menghadapi fenomena ini," kata pemilik Societe de Navigation des Brenets, Yvan Durig.

Durig menambahkan bahwa frekuensi musibah serupa kini semakin sering melanda wilayahnya dalam beberapa tahun terakhir.

"Kekeringan ini terjadi secara beruntun, sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya," kata Yvan Durig.

Badan cuaca MeteoSuisse mencatat kondisi ini menyerupai rekor kekeringan terburuk yang pernah terjadi pada tahun 1976, 2003, dan 2018. Berdasarkan prakiraan cuaca jangka panjang, intensitas curah hujan yang sangat rendah diprediksi masih akan berlangsung hingga pertengahan Agustus.

Dampak kekeringan juga mengubah ekosistem sekitar, di mana sisa air berubah menjadi cokelat dan menyusut hingga menjadi aliran kecil di tengah danau yang memerangkap banyak ikan. Selain itu, aliran air di air terjun Saut de Doubs yang berada di dekat danau tersebut dilaporkan warga lokal hampir mengering sepenuhnya.

"Sangat indah ketika ada air, ketika airnya mengalir. Ini adalah tempat yang indah dan menakjubkan. Tapi sekarang, saya sedih melihat tempat ini seperti ini," kata warga setempat, Martial Beyeler.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author